Forum Mubaligh Cupak
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerahkan diri?" [Fushshilat 41;33]
Kamis, 06 Mei 2021
Senin, 12 April 2021
Selasa, 03 Desember 2013
4. Zina dan Bahayanya
Kajian Islam
Forum Mubaligh Cupak
27 Muharam 1435.H/1 Desember 2013.M
Ust. Asmon Nurijal Lc
ZINA DAN BAHAYANYA
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و
صحبه و من والاه
و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا
عبده و رسوله
أما بعد:
Sebuah
nasehat dari MUN (Majlis Ulama Nagari) untuk seluruh warga Saniangbaka
khususnya dan kaum muslimin pada umumnya. Nasehat yang timbul dari rasa cinta
sesama muslim, timbul dari rasa peduli akan keselamatan bersama di dunia dan
akhirat, timbul dari keinginan untuk kebaikan bersama dunia dan akhirat, timbul
dari hati yang paling dalam yang prihatin akan kemungkaran yang semakin subur
dan kebaikan yang semakin memudar...............semoga Allah menundukkan hati
kita semua....aamiin.
Zina, hukum, bahaya dan akibatnya
1. Hukum zina:
Zina adalah haram, termasuk kejahatan besar, salah
satu dosa besar setelah syirik kepada Allah, dan membunuh jiwa yang tidak
berdosa. Zina itu bertingkat-tingkat keburukan dan kekejiannya, berzina dengan
istri orang lain, berzina dengan istri tetangga termasuk yang paling keji dan paling
hina.
2. Bahaya zina:
a. Secara fitrah setiap manusia pasti tahu
baik mu’min maupun kafir bahwa zina itu adalah perbuatan keji dan menjijikkan
b. Merusak moral pelakunya dan memenuhi
hatinya dengan angan-angan kesenangan sesaat yang membuatnya mudah diperbudak
setan
c. Merusak fisik pelakunya, jika belum
dirasakan di saat muda maka di saat tua dia pasti merasakannya, itu jika dia
berumur panjang.
d. Merusak kehormatan
e. Merusak garis keturunan, sehingga banyak
anak zina yang tidak punya bapak yang sah
f. Menimbulkan penyakit berbahaya yang bahkan
tidak pernah ada pada ummat sebelum saat ini
g. Melahirkan dosa-dosa lain, seperti dusta,
membunuh dan lain sebagainya
h. Di dunia pelaku zina dihukum dengan rajam
jika muhshon (telah menikah) dan dicambuk 100 kali serta diasingkan bagi yang
bujang.
i.
Di
akhirat pelaku zina di dipanggang di sebuah tungku khusus untuk para pezina
j.
Mengundang
azab di dunia bagi pelaku dan orang-orang sekitarnya, seperti gempa dan bencana
lainnya.
k. Hilangnya rasa malu
l.
Timbulnya
kemerosotan moral pada masyarakat secara umum
m. Menyebabkan munculnya generasi yang lemah
kemauan, lemah mental, lemah iman, lemah kebajikan dan lain-lain.
n. Dan masih banyak lagi
3. Jalan menghindari zina:
Sebaik-baik jalan agar tidak terjerumus pada zina
adalah menghindari segala hal yang menggiring pada perzinaan sebagaimana Allah
firmankan dalam surah Al-Israa` ayat 32:
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ
فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
32.
dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (Al-Israa`)
Mendekati
zina saja sudah Allah larang apalagi melakukannya.
Beberapa hal yang mendekatkan pada zina adalah:
a. Berduaan
b. Pacaran
c. Menonton film-film keji dan hina yang
bahkan binatang pun malu melakukannya
d. Membaca bacaan buruk dan keji
e. Mendengarkan cerita-cerita menjijikkan dan
hina
f. Berbaurnya laki-laki dan perempuan seperti
dalam konser-konser, perhelatan-perhelatan dan sejenisnya
g. Pengaruh kawan yang suka berzina
h. Pengaruh minuman keras dan narkoba
i.
Dan
banyak lagi
Bagi yang masih bujangan untuk menekan gejolak nafsu di samping
menghindari segala hal yang mendekatkan diri pada zina, adalah dengan cara
berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan jalan terbaik adalah menikah.
Adapun bagi yang telah menikah jika terpancing syahwatnya karena tidak
sengaja melihat wanita lain hendaklah dia mendatangi istrinya, karena itulah
jalan yang halal baginya dan bahkan berpahala bagi suami istri.
Yang tidak kalah penting adalah menundukkan
pandangan bagi semuanya, karena mayoritas perzinaan berawal dari pandangan yang
merupakan pintu masuk setan untuk menggelorakan nafsu birahi seseorang.
4. Hukuman bagi pelaku zina:
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ
وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ
اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ
عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢)الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا
زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ
مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (٣)
2.
perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
3.
laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau
perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan
oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu
diharamkan atas oran-orang yang mukmin (An-Nuur)
Hukuman pelaku zina adalah sebagai berikut:
a. Dicambuk seratus kali jika bujangan dan
dirajam dengan batu jika pelakunya telah menikah
b. Pelaksanaan hukum pezina dilakukan di
hadapan khalayak ramai agar mereka mengambil pelajaran, dan mereka dilarang
merasa kasihan pada pelaku yang dihukum, agar agama Allah tidak dilanggar hanya
karena rasa kasihan
c. Tidak diakui nasab anak zina kepada lelaki
yang menghamili ibunya dgn zina, walaupun terbukti dialah bapaknya, sehingga
mereka berdua tidak waris mewarisi, jika anaknya perempuan maka tidak boleh
lelaki itu menjadi walinya, dan jika dia bersikeras menjadi wali maka
pernikahan itu tidak sah. Jika pernikahan tidak sah maka itu artinya sama
dengan zina
d. Tidak sah menikah dengan wanita yang hamil
karena zina ketika dia dalam keadaan hamil, baik itu pelakunya maupun bukan.
e. Jika tidak ada pemerintahan yang
menegakkan hukum zina, maka seseorang bisa saja lepas dari hukuman di dunia,
namun dia tidak akan bisa menghindari hukuman Allah di akhirat kelak, dan azab
Allah sangatlah pedih.
5. Zina menyebabkan iman
seseorang terlepas darinya saat berzina dan kembali setelah ia selesai, namun
dalam keadaan sudah berkurang
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ
يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Abu
Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang yang berzina beriman ketika ia berzina,
dan tidaklah ia beriman ketika minum khamr, dan tidaklah ia beriman ketika
mencuri”
Hadits riwayat
Imam Bukhari juz 17 hal 282 nomor 5150
6. Penegakan hukuman atas
pezina dan pencuri adalah kaffarat atas perbuatannya dan di akhirat dia bebas
dari azab, dan barangsiapa yang tidak melakukan namun Allah tutupi dosanya (tidak
diketahui manusia) maka nasibnya terserah kepada Allah, apakah menyiksanya atau
mengampuninya:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي
الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ
مَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَأُقِيمَ عَلَيْهِ الْحَدُّ فَهُوَ كَفَّارَةُ ذَنْبِهِ
وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ
إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ
Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bahwa beliau bersabda tentang zina dan mencuri, “barangsiapa yang melakukannya
lalu ditegakkan hukuman atasnya maka hukuman itu adalah kaffarat (penghapus)
dosanya, dan barangsiapa yang melakukannya lalu Allah tutupi perbuatannya maka
urusannya terserah kepada Allah, jika Allah menghendaki maka Dia mengazabnya
pada hari kiamat atau jika Dia menghendaki maka Dia mengampuninya”.
Hadits riwayat
imam Tirmidzi 9/212 no. 2549
7. Orang tua bertanggung
jawab untuk menjaga keluarganya dari zina di dunia dan akhirat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُونَ
6. Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (at-Tahriim)
Orang tua yang membiarkan perzinaan dalam
keluarganya berarti telah membiarkan keluarganya menjadi bahan bakar neraka.
Begitu juga membiarkan kemungkaran yang lainnya.
8. Membiarkan zina terjadi
apalagi secara terang-terangan berarti mengundang azab untuk semuanya, pelaku
maupun bukan:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)
25. dan
peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.
(Al-Anfaal)
Wahai para
pemimpin, para ninik mamak, para bapak, para ibu, para lelaki, para wanita baik
tua maupun muda, bangkitlah dan ketahuilah bahwa mendiamkan kemungkaran adalah
sama dengan memupuk kemungkaran itu agar tumbuh besar dan merajalela. Maka
takutlah akan azab Allah yang sangat pedih karena telah membiarkan kemungkaran
terjadi dan terus terjadi............berlindunglah kepada Allah.
9. Untuk Para Lelaki
beriman:
Wahai para lelaki
beriman!
Takutlah pada Allah! Allah tidak lalai akan
perbuatan hambanya.
Jika kalian ingin berzina maka sadarlah! Bahwa
wanita yang ingin engkau zinai adalah anak perempuan orang lain, bukankah
engkau tidak suka jika anak perempuanmu dizinai? Begitu juga orang lain tidak
suka jika anaknya dizinai.
Sadarlah! Wanita yang ingin engkau zinai adalah
saudari dari orang lain, bukankah engkau tidak suka jika saudarimu dizinai?
Begitu juga orang lain tidak suka saudarinya dizinai.
Sadarlah! Wanita yang ingin engkau zinai itu
adalah ibu dari orang lain, bukankah engkau tidak suka ibumu dizinai? Begitu
juga orang lain tidak suka ibunya dizinai.
Sadarlah! Wanita yang ingin engkau zinai itu
adalah bibi dari orang lain, bukankah engkau tidak suka bibimu dizinai? Begitu
juga orang lain tidak suka bibinya dizinai
Oleh karena itu janganlah engkau berzina!
Takutlah azab Allah, sesungguhnya azab Allah
sangat pedih. Atau apakah kalian sanggup menahan azabNya?!
10.
Untuk Para Wanita
beriman:
Wahai para wanita beriman!
Takutlah kepada Allah! Allah tidak lalai akan
perbuatan hambanya.
Sadarlah bahwa segala yang engkau miliki adalah
anugrah dan karunia Allah. Maka gunakanlah segalanya untuk mencari ridha Allah.
Wanita adalah mutiara, dan mutiara tidak
sepantasnya diserakkan di jalan-jalan dan tempat-tempat umum lainnya yang
menjadikannya tidak bernilai. Dan tidak seorangpun yang membiarkan mutiara
diletakkan di tempat-tempat kotor bahkan orang bodoh sekalipun.
Wahai para wanita beriman, satu saja dari kalian
menampakkan aurat yang tidak semestinya nampak kecuali bagi suami dan
mahramnya, maka dia telah menjerat seorang lelaki, bahkan belasan, bahkan
puluhan, bahkan ratusan, bahkan ribuan, bahkan jutaan, bahkan belasan juta,
bahkan puluhan juta, bahkan ratusan juta dst........bisakah kalian membayangkan
dosanya? Bisakah kalian membayangkan pedihnya azab neraka? Atau apakah kalian
sanggup menahan azab neraka?!
Demikianlah, agar nasehat ini menjadi bahan renungan kita bersama sambil
berharap agar Allah memberi kita petunjuk dan kemudahan untuk takwa kepadaNya
dengan mentaati perintahNya dan menghindari laranganNya, di antaranya zina dan
segala yang menjurus padanya.
بارك الله لي و لكم
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Senin, 02 Desember 2013
3. Hukum dan Keutamaan Dakwah
Kajian
Islam
Forum
Mubaligh Cupak
17
Maret 2013
Ust.
Asmon Nurijal Lc
HUKUM DAN KEUTAMAAN DAKWAH
Pengantar
Sungguh banyak pengaruh Al Qur’an bagi
orang-orang yang mau mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an, baik mukmin maupun kafir,
jadi bahan renungan bagi kita semua hendaknya bahwa kenyataan di masyarakat
kita sangat menyedihkan bahwa ketika dibacakan ayat Al Qur’an dalam satu acara
umumnya tidak banyak yang memperhatikan. Walaupun bacaan Al Qur’an dibacakan
dengan sederhana, kalau kita memahami maknanya sungguh luar biasa, pada bulan
Januari yang lalu [2013] di daerah Saramseh, daerah wisata terkenal di Mesir,
daerah pantai, ada sebuah masjid, ada seorang turis dari Inggris menyatakan
dirinya masuk islam di pintu masjid karena tersentuh bacaan Al Qur’an, setelah
mengucapkan syahadat di depan jamaah masjid tersebut dibimbing oleh sang imam,
dia meminta kembali sang imam membacakan beberapa ayat Al Qur’an yang
menggetarkan jiwanya agar mengokohkan hatinya dalam agama Allah. Orang Inggris
ini belum paham dengan ayat Al Qur’an, tapi getar-getar Kalamullah, karena
kalam Al Qur’an bukan ucapan makhluk tapi Kalamurrabbil ‘Alamin. Sehingga bisa
menggetarkan hati siapa saja yang mengerti atau tidak mengerti dengan syarat
sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al A’raf 7;204
“dan apabila dibacakan Al Quran, Maka
dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat”.
Banyak sekali kisah yang
menyebabkan seseorang pertama kali orang kafir masuk islam tanpa dakwah dan
tanpa dijelaskan maknanya dan tanpa mengerti, ini adalah nikmat yang luar
biasa, nikmat Al Qur’an yang merupakan mukjizat Al Qur’an yang tiada
tandingannya, bagi seorang dai khususnya, Al Qur’an jadi pegangan utama, kalau kita belum mempunyai hati yang
mencintai Al Qur’an maka sungguh dakwah yang akan disampaikan tidak akan pernah sampai, karena bagaimana
mungkin kita bisa memberikan rasa cinta dan menumbuhkannya pada hati kaum
muslimin kalau kita sendiri tidak mencintai Al Qur’an karena inilah sumber
utama islam.
Seorang remaja menyatakan cintanya
kepada Al Qur’an lalu menghafalnya, tapi kenapa hafalan ayat-ayat Al Qur’an itu
mudah sekali hilang, sering lupa padahal sebelumnya sudah hafal. Ketika
ditanyakan sang remaja menyimpan Al
Qur’an itu dalam HPnya yang bercampur dengan lagu-lagu lainnya, sesungguhnya
tidaklah berkumpul di hati seorang muslim, cinta Al Qur’an dan cinta yang lain,
jika Al Qur’an bersemanyam di hatinya maka lagu tidak akan bersemayam di
hatinya. Jika lagu yang bersemayam di hatinya maka Al Qur’an akan pergi dari
hatinya.
Setelah remaja itu menghapus
lagu-lagu dalam HPnya maka terjadi perubahan pada dirinya, dia semakin banyak
hafal Al Qur’an.
Hukum Dakwah
Dakwah merupakan
pekerjaan utama para rasul yang merupakan pekerjaan yang sangat mulia, sebagai
dai kita tidak boleh merasa kecil hati dan rendah diri karena bekerja secara
khusus sebagai seorang mubaligh atau seorang dai dan kita harus hapus cara pandang
para orang tua yang merendahkan pekerjaan dakwah, seorang dai harus membuktikan
bahwa dia bahagia dengan pekerjaan ini, bukan soal berapa yang kita dapat tapi
ingat tabungan di akherat, disisi Allah……………………………[Apa yang ada pada sisi
kalian pasti akan habis dan apa yang ada disisi Allah itu kekal]………………………….bagi
mereka di dalam syurga itu apa saja yang mereka
kehendaki dan disisi Kami selalu ada tambahan].
Kaum muslimin harus memperhatikan
orang-orang yang bekerja untuk dakwah dalam segala levelnya seperti garin,
muadzin dan guru mangaji, Allah pasti meninggikan suatu ummat yang meninggikan
kalimat Allah Swt dan Allah pasti memulyakan suatu ummat yang memulyakan
syiar-syiar Allah dan itu bagian dari dakwah dan Allah akan merendahkan ummat
yang merendahkan syiar-syiar Allah.
Apa pandangan masyarakat terhadap
garin masjid, dianggap pekerjaan yang rendah, padahal kalimat adzan
dikumandangkan oleh garin dan muadzin, kalimat yang lebih berat dari langit dan
seisinya, dalam sebuah riwayat nabi Musa meminta kepada Allah agar diajarkan
suatu kalimat untuk mengingat Allah Swt khusus untuk nabi Musa maka Allah
mengajarkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, nabi Musa berkata, “Setiap hamba-Mu
mengatakan hal ini, saya ingin yang khusus” maka Allah mengingatkan,”Wahai Musa,
seandainya seluruh langit dan makhluk yang ada di dalam bumi dan seluruh
makhluk di alam semesta diletakkan disuatu timbangan, disisi timbangan dan
kalimah Laa Ilaaha Illallah disisi yang lain, kalimat Laa Ilaaha Illallah lebih
berat dari semua itu.
Betapa kecilnya penghargaan
masyarakat terhadap dakwah sehingga kecilnya honor yang diberikan kepada garin,
muadzin, guru agama dan guru mengaji, seharusnya berikanlah yang selayaknya
untuk mereka yang meninggikan kalimat Allah sementara untuk hura-hura banyak
uang kita habis, surau dibangun menghabiskan milyaran rupiah tapi isinya tidak
ada, perhatian masyarakat terhadap agama ini masih kurang. Dizaman para
khilafah masa dahulu, seorang guru setingkat TPA, guru mengaji Al Qur’an, gaji
mereka 15 dinar [sekitar 60 gram emas].
Seharusnya cara pandang terhadap dai
harus berubah, seorang dai harus bangga dengan posisinya hari ini, jangan
rendah diri, kalau orang akan menghargai dai maka dai itu sendiri yang harus
menghargai dirinya, begitu juga seharusnya masyarakat yang punya rezeki untuk
menghidupkan dakwah melalui rezekinya seperti membiayai MDA atau TPA, untuk
kepentingan garin, guru mengaji dan muadzin, ini merupakan kegiatan
keagamaan dalam arti yang nyata.
Hukum
dakwah secara khusus dalam artian orang yang memberikan pelajaran dalam bentuk
halaqah-halaqah, memberikan ceramah-ceramah, yang memberikan pelajaran dalam
bentuk khutbah, mengajar dalam segala bidangnya, itu adalah fardu kifayah,
artinya jika tidak ada yang melakukannya maka berdosa semua, jika ada yang
melakukan sebagian maka sudah jatuh kewajiban yang lain, sebagaimana firman
Allah Swt dalam surat Ali Imran 3;104
“dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Harus
ada sekelompok pada satu kaum yang mengajak kepada kebajikan. Dalam ayat ini
objeknya tidak disebutkan, siapa yang diajak kepada kebajikan dan siapa yang
dilarang dari kemungkaran, tidak disebutkan, artinya ini mencakup siapa saja
termasuk diri orang yang mengajak, ajak diri kita dahulu, karena ada orang yang
mengajak, dirinya tidak ikut, dia cuma mengajak orang saja, orang diajaknya
kesana tapi dia tidak ikut kesana. Kalau disebutkan objeknya, dia akan lupa
dengan dirinya, maka ini juga mengajak diri sendiri para dai. Perintah, untuk
kita dahulu, dan larangan untuk kita lebih dahulu. Allah melebeli orang yang
berjuang dijalan dakwah ini sebgaai orang yang beruntung.
Medan
dakwah bukan hanya melalui lisan, ada sebagian kaum muslimin yang berdakwah
melalui tulisan, melalui makalah-makalah, melalui selebaran-selebaran.
Dan
secara umum ada pada pundak kaum muslimin dan muslimah; seorang bapak
berkewajiban mendawahi anaknya dan keluarganya walaupun dia tidak seorang dai,
seorang ibu juga jadi dai bagi anak-anaknya, sebuah keluarga menjadi dai dari
tetangga sebelah kiri dan kanan, depan dan belakang, arti dakwah secara khusus,
setiap muslim tidak boleh membiarkan kemungkaran terjadi dan mengabaikan
kebenaran tidak tersebarkan, karena sebagian ulama berkata………………….”orang yang
mendiam kebenaran dan membiarkan kemungkaran syaitan bisu”. Dia berperan
sebagai setan tapi bisu, karena pengaruh televise dan bacaan, faham liberal,
pluralisme dan sebagainya yang merasuk ke tubuh kaum muslimin bersikap cuek
dengan alasan sayang kepada mereka, alasan tidak mencampuri urusan mereka dan sebagainya,
ini satu kesalahan yang harus kita perbaiki.
Perumpamaan
orang yang membiarkan kemungkaran terjadi, membiarkan seseorang tersesat
seperti perumpamaan orang yang melihat orang ramai, melihat seorang buta yang berjalan menuju jurang dan mereka
diam saja, biarlah itu urusan si buta, jangan ikut campur urusan orang, atau
seperti orang yang melihat anak kecil yang menyeberangi jalan sedangkan
kendaraan demikian banyaknya, kemudian dengan alasan sayang dan tidak ingin
mengganggu kesenangan anak kecil, biarkan saja, akhirnya bisa ketabrak
kendaraan.
Maka
tugas dai menyampaikan dan setiap kita mempunyai kewajiban sesuai dengan kadar
kemampuan masing-masing.
Dalam
dakwah seringkali kita menemukan hambatan penolakan, cibiran, hinaan atau kita
tahu orang ini keras kepala, ingat tugas kita hanya menyampaikan, setelah kita
menyampaikan, kita sudah punya alasan nanti di hadapan Allah Swt untuk
membebaskan diri kita dari tanggungjawab
sebagai orang yang tahu kebenaran dan tahu kemungkaran, kalau tidak kita diminta
pertanggungjawaban dihadapan Allah, kenapa membiarkan kemungkaran dan tidak
memberikan nasehat, dalam surat Al A’raf [7] ayat 164
“dan (ingatlah) ketika suatu umat di
antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan
membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang Amat keras?"
mereka menjawab: "Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab)
kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”
Ada
orang-orang yang memberikan nasehat kepada pelaku-pelaku maksiat, pelaku dosa,
dia diabaikan, dihina dilecehkan, ditertawakan, lalu sebagian orang
menyatakan,”ngapain lagi kasih nasehat kepada pelaku maksiat itu, mereka pasti
akan dibinasakan, diazab Allah, sudah biarkan saja, lalu dai itu menjawab,”Kami
memberikan nasehat itu sebagai hujjah
bagi kami nanti di hadapan Allah untuk melepaskan diri dari
tanggungjawab sebagai orang yang tahu agar tidak ikut diazab karena membiarkan
perbuatan dosa yang dilakukan, siapa tahu mereka sadar dengan sedikit nasehat,
maka selesai tugas kita sebagai dai, diterima atau tidak diterima yang penting
kita yang pertama kali yang bisa melepaskan tanggungjawab dari pundak kita
bukan di dunia tapi di akherat di hadapan Allah Swt.
Maka
seorang dai harus berbahagia, karena
menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran sudah menyelesaikan
tugasnya, diterima atau tidak, dipercaya
atau tidak, melakukan atau tidak, itu bukan tanggungjawab kita di hadapan Allah
‘Azza Wajalla.
Keutamaan Dakwah
Dakwah
Ilallah, yaitu dakwah menuju Allah, bagaimana perintah untuk melakukan dakwah,
pujian Allah‘Azza Wajalla kepada orang yang melakukan dakwah.
Haq
dan batil pasti berperang sampai akhir zaman, sampai Allah mendatangkan
perintah-Nya, ketika nanti Islam jadi penguasa di dunia sebelum kiamat datang,
kemudian terjadilah kiamat dan datanglah yaumul………yaitu hari keputusan,
sehingga jelas semuanya mana yang hak dan mana yang batil.
Dakwah
dalam artian bahasa; menyeru manusia, tak peduli kepada apa mereka menyeru, hal
itu dilakukan oleh ahlul haq dan ahlul batil, ahlul batil juga mengajak manusia
kepada kebatilannya, orang kafir mengajak kepada kekafirannya, orang sesat
mengajak orang kepada kesesatannya, ahlul haq mengajak kepada yang haq, kita
lihat orang kafir, orang Nasrani umpamanya berusaha keras mengajak manusia
terutama kaum muslimin untuk nasrani dengan berbagai cara seperti memberikan
bantuan berupa mie, beras, pengobatan dan lain-lainnya, lalu apa yang bisa kita
ambil pelajaran dari mereka? Apa yang bisa kita ambil dari dakwah orang-orang
kafir, dakwah orang-orang sesat, dakwah yang tidak menuju Allah Azza Wajalla,
adalah bahwa mereka mencurahkan segalanya untuk dakwah menuju kesesatan,
sehingga kita tak heran menemukan seorang misionaris di Afrika sudah tinggal 10
tahun di hutan belantara dengan segala keterbatasannya mendakwahkan kesesatan nasrani, meninggalkan
keluarga, hidup apa adanya bahkan mengorbankan hartanya padahal dia mengiring
dirinya dan manusia menuju neraka, sementara yang mereka lihat kebanyakan ahlul
haq kaum muslimin berdakwah tidak siap mengorbankan hidupnya untuk dakwah.
Makanya
dakwah yang tidak sepenuhnya diberikan oleh pelakunya pengorbanan yang
sesungguhnya akan kalah dengan dakwah yang batil dengan totalitas yang luar
biasa, bukan berarti kita harus sengsara, dimana kita hidup, berikan secara
totalitas, berkecupukan hidup tidak dilarang, lihat para sahabat nabi dan nabi
Saw pun pernah hidup kaya bersama Khadijah Ra, beliau teladan dalam kaya dan miskin, para sahabat
nabi Abu Bakar Ash-shiddiq pedagang yang kaya, Abdurrahman bin Auf, yang
hartanya berlimpah tidak terhingga, sehingga sampai istilahnya, batu dia balik
bisa jadi harta, begitu mudahnya rezeki Abdurrahman bin Auf, dan beliau masuk
satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga. Kaya boleh, namun tidak
diperbudak oleh kekayaan, ada seorang di Arab Saudi bernama Sulaiman Ar Rajihi,
dahulu dia seorang miskin, sekarang sudah mempunyai perusahaan yang banyak,
termasuk orang ke 110 terkaya di dunia, jumlah infaqnya fi sabilillah, untuk
dakwah, untuk orang-orang miskin yang tercatat dalam perusahaan 6,7 triliun
yang sudah dia nafkahkan dan beliau ini sampai membuat muadzin dekat rumahnya
malu karena dia lebih cepat datang ke masjid dari muadzin, sampai ketika
muadzin itu terlambat, waktu sudah masuk, beliau yang azan, dalam usianya yang
sudah tua, beliau hanya meminta dari perusahaan-perusahaannya, uang untuk
mencukupi kebutuhan pokoknya; makan, pakaian, biaya rumah tangga seadanya,
tidak diperbudak harta namun harta berlimpah datang kepadanya.
Maka
kita harus benar-benar memberikan totalitas hidup kita dalam bentuk apa yang
kita miliki, apa saja yang kita miliki untuk dakwah ini; tenaga kita, fikiran,
waktu kita, harta kita berapa yang kita sanggup untuk dakwah ini, Allah akan
menggantinya dengan berlipat ganda sampai bilangan yang Allah kehendaki bagi
siapa saja yang Allah kehendaki.
Keutamaan dan pujian dakwah yang ditujukan kepada dai terdapat dalam surat
Fushshilat 41;33
“Siapakah yang
lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang
menyerahkan diri?"
Secara
manusiawi kita membutuhkan pujian, seperti pujian dari manusia, setelah khutbah
orang menyampaikan,”mantap khutbahnya” pasti senang, namun alangkah bahagianya
seorang dai, seorang muslim yang memujinya adalah Allah‘Azza Wajalla,
sampai-sampai Allah memujinya “Tidak ada yang lebih baik perkataannya selain
orang yang berdakwah”, lebih hebat pujian ini dari pada pujian manusia, itupun
hanya sesaat. Siapakah ucapannya yang lebih ahsan, lebih baik, lebih indah,
ahsan bukan hanya lebih baik artinya tapi akhlas
[lebih ikhlas], ashwab [lebih
benar], ajmal [lebih indah] dan
lebih tepat, semua makna yang baik
tercakup dalam kata ahsan.
Allah
mempertanyakan dalam arti, tidak ada yang lebih baik, orang yang berdakwah kepada Allah itulah yang lebih baik. Seorang dai
menjadi teladan, berdakwah dengan beramal shaleh, teladan bagi dirinya dan bagi
masyarakatnya, bukan hanya berbicara tanpa amal, bukan berarti seorang dai
kalau dia belum melakukan sesuatu dia, tidak boleh mendakwahkan sesuatu
tersebut, tunggu dulu beramal maka tidak
akan ada dakwah, tapi proses ini harus berjalan, kita mendakwahkan kebaikan
seperti sedekah, kita tidak mampu
bersedekah banyak, tapi dakwah memberi motivasi diri kita dalam dakwah ini.
Seorang
dai yang semakin menjiwai apa yang dia sampaikan dia akan semakin mudah untuk
mengamalkannya dan menjadi teladan, namun kalau kita menunggu untuk sempurna,
jadi manusia suci lalu berdakwah, maka tidak akan ada dakwah. Ini adalah salah
satu hal oleh orang-orang kafir, kalau
ada orang yang berdakwah dikatakan,”jangan sok sucilah”, dalam islam tidak ada
istilah manusia suci, yang ada istilah manusia bertaqwa, istilah suci hanya ada
pada agama-agama kafir; Hindu, Budha, Nasrani, dalam islam dinyatakan oleh
Allah, bila manusia berdosa lalu memohon ampun kepada Allah, diampuni dan
diberikan syurga-Nya.
Dalam
islam yang diwariskan oleh nabi Saw, tidak ada istilah manusia suci , sejak
dari rasul, para sahabat, thabiit thabiin, tidak ada istilah suci,yang ada
adsalah manusia Al Muttaqin, Al Muhsinun, Ash Shalihun, Ash Shiddiqun, Asy
Syuhada’. Jangan takut dengan kata-kata “manusia suci” yang penting sampaikan,
siapa tahu dengan menyampaikan itu termotivasi untuk mengamalkan apa yang belum
diamalkan itu.
Dan
bisa saja, dahulunya amal yang belum kita amalkan, lalu kita dakwahkan lalu
menjadikan amal yang kita cintai untuk diamalkan.
Tiga
sifat yang harus dilakukan oleh para dai yaitu;
1.
Berdakwah
menuju Allah, yaitu kepada Allah‘Azza Wajalla
2.
Beramal
shaleh
3.
Menyatakan
diri sebagai muslim, artinya bangga menjadi seorang muslim yang berdakwah dan
beramal shaleh.
Seorang
dai tidak pernah dan tidak boleh merasa rendah diri karena yang memuji seorang
dai adalah Allah‘Azza Wajalla, kalau sudah dipuji oleh Allah‘Azza Wajalla maka tidak perlu
mengharapkan pujian dari manusia.
Makna
yang terkandung dalam da’a ilallah bahwa
seorang dai tidak mengajak masyarakat untuk menjadi penggemarnya, untuk jadi
jamaahnya, untuk menjadi fans beratnya, dia mengajak manusia menuju Allah,
mencintai Allah‘Azza Wajalla, mentaati
Allah‘Azza Wajalla, takut kepada Allah‘Azza Wajalla, tidak peduli orang ini
jadi pengikut, jamaah atau fans-nya, bukan ini tujuan dakwah, dia bahagia bila
ada orang yang taat kepada Allah melalui dakwahnya, walau orang itu tidak
memuji-muji dirinya, tidak mengikutinya kemana-mana.
Dia
bahagia orang berhenti dari maksiat walaupun secara tidak lansung, bisa saja
hanya mendengar melalui mik, maka konsistensi
keistiqamahan seorang dai menjadi contoh yang paling hebat. Pengajian di
masjid secara rutin membuat jamaah semakin faham dengan islam walaupun jamaah itu tidak hadir di masjid,
dia hanya mendengarkan pada sebuah kedai kopi di dekat masjid itu, karena
kajian di masjid itu secara rutin dengan materi yang berurut dan tersistim,
akhirnya menggugah pendengar di kedai
itu untuk masuk ke masjid untuk belajar bersama.
Allah memberikan hidayah kepada
siapa saja, lebih menggembirakan bila hidayah itu diberikan melalui perantara
kita, bukan tujuan kita mencari penggemar agar orang tertarik kepada kita, tapi
ikhlaskan berdakwah karena mencari ridha Allah maka Allah tinggikan derajatnya.
Dakwah yang disampaikan dengan
hikmah dan sabar akan masuk ke dalam hati orang yang didakwahi.
Orang
yang paling ingkar di bumi, yaitu Fir’aun, keingkaran Fir’aun mengaku sebagai
tuhan, tidak ada keingkaran yang lebih besar dari pada keingkaran Fir’aun, tidak ada kesombongan yang lebih
besar selain kesombongan Fir’aun. Seingkar-ingkarnya manusia, sebenarnya di
hatinya masih mengakui kebenaran, tinggal dai lagi untuk melakukan dakwah
dengan berbagai bentuk, dalam surat An Naml 27;14 Allah berfirman mengungkap
hakekat Fir’aun, Haman dan tentaranya.
“dan mereka mengingkarinya karena
kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”
Ayat
ini berkaitan dengan Fir’aun dan bala tentaranya, yang tidak ada keingkaran
yang lebih besar daripada keingkaran Fir’aun, kalau zaman kita ini baru taraf
mengaku nabi, Fir’aun diatas itu, mengaku sebagai tuhan semesta alam, namun
sejahat-jahat manusia ada fitrah di hatinya, tapi kesombongan dan kezaliman
meninggalkan kebenaran dan melakukan kebatilan, sebenarnya mereka mengakui
kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa As.
Kitapun
harus yakin, seingkar-ingkarnya manusia, orang-orang yang melakukan maksiat sebenarnya
masih ada pengakuan kebenaran, tinggal
bagaimana caranya dai mengekploitasi pengakuan kebenaran yang ada dalam hati
mereka itu untuk muncul kepermukaan dan akhirnya mereka menyadari. Banyak
sekali perkara yang tidak selesai dengan kekerasan, sungguh membahagiakan jika
kita memperhatikan orang-orang itu sadar dan sungguh membahagiakan justru kita
tidak tahu kalau dia sadar melalui kita, karena artinya Allah memelihara amal
kita agar kita tidak bangga dan sombong,
Allah simpan pahalanya untuk kita di akherat, dalam surat Sajadah…………..
Ada sebuah kisah di Tunisia, seorang dai dari
Kuwait bernama Syaikh Hasan Al Husaini, dai ahli sunnah, beliau berkunjung ke Tunisia untuk melihat tempat-tempat
yang pernah menjadi sejarah kaum muslimin terutama para sahabat ketika
menundukkan Afrika Utara dan mengislamkan penduduknya, menyebarkan islam,
ketika berkunjung ke suatu tempat bernama Tal’ah, beliau dikagetkan dengan
berita dari pemandu lokal, beliau tidak untuk wisata tapi untuk berdakwah tapi berkunjung ke
tempat ini, apa berita tersebut, tempat yang bersejarah penuh perjuangan,
darah para sahabat, darah kaum muslimin menegakkan islam ternyata
dinodai oleh perbuatan sebagian mereka, menjadikan tempat itu untuk berbuat
maksiat oleh perempuan nakal bahkan di
siang hari, akhirnya syaikh Hasan Al Husaini memohon pertologan kepada Allah Azza Wajalla dan
menyerahkan diri kepada Allah, bertekad mendakwahi mereka, lalu dia datang ke
tempat tersebut dan berbicara dengan yang punya wewenang, minta izin untuk menyampaikan
nasehat, tidak lebih dan tidak masuk ke dalam, beliau tetap di luar, ketika
beliau mulai berbicara, banyak yang keluar dari tempat itu lelaki dengan
menutup wajah, tanda masih ada pengakuan bahwa yang mereka lakukan adalah dosa.
Para
wanita yang dinasehati itu mulai menangis satu persatu, tanda masih ada iman
dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa, bahkan ada yang
berkata, “Ya Syaikh, kami juga takut dengan azab Allah, tunjukkan kami jalan keluar, apa yang harus kami lakukan
karena dosa kami sudah demikian banyak”, semakin menangis satu menangis yang
lain.
Ini
sebagai contoh terhadap kita untuk menyadarkan ummat, walaupun tidak sadar
semua paling tidak ada yang sadar, mereka mungkin tidak pernah mendengarkan
nasehat sehingga kebenaran yang mereka akui dalam jiwa mereka itu tertutup oleh
kebatilan yang terus menerus mereka lakukan, maka seingkar-ingkar manusia kita
harus yakin ada pengakuan terhadap kebenaran di dalam hati mereka itu.
Dalam
surat Thaha 20;44 Nabi Musa dan Nabi Harun As, diperintahkan oleh Allah Azza
Wajalla untuk mendatangi Fir’uan, manusia yang paling ingkar dalam sejarah
manusia dan mengatakan kata-kata yang lemah lembut, bahkan dalam dakwah ini
bukan keras dikedepankan tapi tegas, ada saatnya berlemah-lembut, siapa tahu
dengan lemah lembut itu hatinya mau
terbuka;
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". [Thaha 20;44].
Dengan
Fir’aun saja kita diperintahkan untuk
berkata berlemah-lembut, maka orang yang rendah dari Fir’aun lebih berhak untuk
diperlakukan lemah-lembut, tapi bukan berarti kita tidak boleh tegas, harus
tegas, dalam khutbah juga kita harus ada nada tinggi, bukan kasar, tapi
menunjukkan tegas dan pentingnya satu perkara, ketika berhadapan dengan manusia
secara ril di lapangan, misalnya dengan pelaku kejahatan, dia datang maka
kitapun harus berlemah-lembut, sikap itu akan meruntuhkan kekasaran, tapi kita
diuji dahulu dengan perangai-perangainya, siapa
tahu satu saat dia akan sadar.
Inilah
tiga sifat para dai yang menjadikan pujian Allah kepada para dai, yang harus
kita resapi dan fahami dari ayat ini, ayat
ini sangat tinggi kandungannya sehingga para ulama menjadikan ayat ini
sebagai keutamaan dakwah yang tinggi karena Allah memujinya, kalau Allah sudah
memujinya maka pasti Allah memberikan pahala disisi-Nya, tidak ada pujian yang
melebihi pujian Allah Azza Wajalla. .[Mdr, 28 Muharam 1435.H/02 Desembar
2013.M]
Langganan:
Komentar (Atom)