Senin, 02 Desember 2013

3. Hukum dan Keutamaan Dakwah



Kajian Islam
Forum Mubaligh Cupak
17 Maret 2013
Ust. Asmon Nurijal Lc
 

HUKUM DAN KEUTAMAAN DAKWAH
Pengantar
            Sungguh banyak pengaruh Al Qur’an bagi orang-orang yang mau mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an, baik mukmin maupun kafir, jadi bahan renungan bagi kita semua hendaknya bahwa kenyataan di masyarakat kita sangat menyedihkan bahwa ketika dibacakan ayat Al Qur’an dalam satu acara umumnya tidak banyak yang memperhatikan. Walaupun bacaan Al Qur’an dibacakan dengan sederhana, kalau kita memahami maknanya sungguh luar biasa, pada bulan Januari yang lalu [2013] di daerah Saramseh, daerah wisata terkenal di Mesir, daerah pantai, ada sebuah masjid, ada seorang turis dari Inggris menyatakan dirinya masuk islam di pintu masjid karena tersentuh bacaan Al Qur’an, setelah mengucapkan syahadat di depan jamaah masjid tersebut dibimbing oleh sang imam, dia meminta kembali sang imam membacakan beberapa ayat Al Qur’an yang menggetarkan jiwanya agar mengokohkan hatinya dalam agama Allah. Orang Inggris ini belum paham dengan ayat Al Qur’an, tapi getar-getar Kalamullah, karena kalam Al Qur’an bukan ucapan makhluk tapi Kalamurrabbil ‘Alamin. Sehingga bisa menggetarkan hati siapa saja yang mengerti atau tidak mengerti dengan syarat sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al A’raf 7;204
“dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.

                Banyak sekali kisah yang menyebabkan seseorang pertama kali orang kafir masuk islam tanpa dakwah dan tanpa dijelaskan maknanya dan tanpa mengerti, ini adalah nikmat yang luar biasa, nikmat Al Qur’an yang merupakan mukjizat Al Qur’an yang tiada tandingannya, bagi seorang dai khususnya, Al Qur’an jadi pegangan  utama, kalau kita belum mempunyai hati yang mencintai Al Qur’an maka sungguh dakwah yang akan disampaikan  tidak akan pernah sampai, karena bagaimana mungkin kita bisa memberikan rasa cinta dan menumbuhkannya pada hati kaum muslimin kalau kita sendiri tidak mencintai Al Qur’an karena inilah sumber utama islam.

            Seorang remaja menyatakan cintanya kepada Al Qur’an lalu menghafalnya, tapi kenapa hafalan ayat-ayat Al Qur’an itu mudah sekali hilang, sering lupa padahal sebelumnya sudah hafal. Ketika ditanyakan sang remaja menyimpan  Al Qur’an itu dalam HPnya yang bercampur dengan lagu-lagu lainnya, sesungguhnya tidaklah berkumpul di hati seorang muslim, cinta Al Qur’an dan cinta yang lain, jika Al Qur’an bersemanyam di hatinya maka lagu tidak akan bersemayam di hatinya. Jika lagu yang bersemayam di hatinya maka Al Qur’an akan pergi dari hatinya.
            Setelah remaja itu menghapus lagu-lagu dalam HPnya maka terjadi perubahan pada dirinya, dia semakin banyak hafal Al Qur’an.

Hukum Dakwah
            Dakwah merupakan pekerjaan utama para rasul yang merupakan pekerjaan yang sangat mulia, sebagai dai kita tidak boleh merasa kecil hati dan rendah diri karena bekerja secara khusus sebagai seorang mubaligh atau seorang dai dan kita harus hapus cara pandang para orang tua yang merendahkan pekerjaan dakwah, seorang dai harus membuktikan bahwa dia bahagia dengan pekerjaan ini, bukan soal berapa yang kita dapat tapi ingat tabungan di akherat, disisi Allah……………………………[Apa yang ada pada sisi kalian pasti akan habis dan apa yang ada disisi Allah itu kekal]………………………….bagi mereka di dalam syurga itu apa saja yang mereka  kehendaki dan disisi Kami selalu ada tambahan].

            Kaum muslimin harus memperhatikan orang-orang yang bekerja untuk dakwah dalam segala levelnya seperti garin, muadzin dan guru mangaji, Allah pasti meninggikan suatu ummat yang meninggikan kalimat Allah Swt dan Allah pasti memulyakan suatu ummat yang memulyakan syiar-syiar Allah dan itu bagian dari dakwah dan Allah akan merendahkan ummat yang merendahkan syiar-syiar Allah.

            Apa pandangan masyarakat terhadap garin masjid, dianggap pekerjaan yang rendah, padahal kalimat adzan dikumandangkan oleh garin dan muadzin, kalimat yang lebih berat dari langit dan seisinya, dalam sebuah riwayat nabi Musa meminta kepada Allah agar diajarkan suatu kalimat untuk mengingat Allah Swt khusus untuk nabi Musa maka Allah mengajarkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, nabi Musa berkata, “Setiap hamba-Mu mengatakan hal ini, saya ingin yang khusus” maka Allah mengingatkan,”Wahai Musa, seandainya seluruh langit dan makhluk yang ada di dalam bumi dan seluruh makhluk di alam semesta diletakkan disuatu timbangan, disisi timbangan dan kalimah Laa Ilaaha Illallah disisi yang lain, kalimat Laa Ilaaha Illallah lebih berat dari semua itu.

            Betapa kecilnya penghargaan masyarakat terhadap dakwah sehingga kecilnya honor yang diberikan kepada garin, muadzin, guru agama dan guru mengaji, seharusnya berikanlah yang selayaknya untuk mereka yang meninggikan kalimat Allah sementara untuk hura-hura banyak uang kita habis, surau dibangun menghabiskan milyaran rupiah tapi isinya tidak ada, perhatian masyarakat terhadap agama ini masih kurang. Dizaman para khilafah masa dahulu, seorang guru setingkat TPA, guru mengaji Al Qur’an, gaji mereka 15 dinar [sekitar 60 gram emas].

            Seharusnya cara pandang terhadap dai harus berubah, seorang dai harus bangga dengan posisinya hari ini, jangan rendah diri, kalau orang akan menghargai dai maka dai itu sendiri yang harus menghargai dirinya, begitu juga seharusnya masyarakat yang punya rezeki untuk menghidupkan dakwah melalui rezekinya seperti membiayai MDA atau TPA, untuk kepentingan garin, guru mengaji dan muadzin, ini merupakan kegiatan keagamaan  dalam arti yang nyata.

Hukum dakwah secara khusus dalam artian orang yang memberikan pelajaran dalam bentuk halaqah-halaqah, memberikan ceramah-ceramah, yang memberikan pelajaran dalam bentuk khutbah, mengajar dalam segala bidangnya, itu adalah fardu kifayah, artinya jika tidak ada yang melakukannya maka berdosa semua, jika ada yang melakukan sebagian maka sudah jatuh kewajiban yang lain, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ali Imran 3;104
“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Harus ada sekelompok pada satu kaum yang mengajak kepada kebajikan. Dalam ayat ini objeknya tidak disebutkan, siapa yang diajak kepada kebajikan dan siapa yang dilarang dari kemungkaran, tidak disebutkan, artinya ini mencakup siapa saja termasuk diri orang yang mengajak, ajak diri kita dahulu, karena ada orang yang mengajak, dirinya tidak ikut, dia cuma mengajak orang saja, orang diajaknya kesana tapi dia tidak ikut kesana. Kalau disebutkan objeknya, dia akan lupa dengan dirinya, maka ini juga mengajak diri sendiri para dai. Perintah, untuk kita dahulu, dan larangan untuk kita lebih dahulu. Allah melebeli orang yang berjuang dijalan dakwah ini sebgaai orang yang beruntung.

Medan dakwah bukan hanya melalui lisan, ada sebagian kaum muslimin yang berdakwah melalui tulisan, melalui makalah-makalah, melalui selebaran-selebaran.
Dan secara umum ada pada pundak kaum muslimin dan muslimah; seorang bapak berkewajiban mendawahi anaknya dan keluarganya walaupun dia tidak seorang dai, seorang ibu juga jadi dai bagi anak-anaknya, sebuah keluarga menjadi dai dari tetangga sebelah kiri dan kanan, depan dan belakang, arti dakwah secara khusus, setiap muslim tidak boleh membiarkan kemungkaran terjadi dan mengabaikan kebenaran tidak tersebarkan, karena sebagian ulama berkata………………….”orang yang mendiam kebenaran dan membiarkan kemungkaran syaitan bisu”. Dia berperan sebagai setan tapi bisu, karena pengaruh televise dan bacaan, faham liberal, pluralisme dan sebagainya yang merasuk ke tubuh kaum muslimin bersikap cuek dengan alasan sayang kepada mereka, alasan tidak mencampuri urusan mereka dan sebagainya, ini satu kesalahan yang harus kita perbaiki.

Perumpamaan orang yang membiarkan kemungkaran terjadi, membiarkan seseorang tersesat seperti perumpamaan orang yang melihat orang ramai, melihat seorang  buta yang berjalan menuju jurang dan mereka diam saja, biarlah itu urusan si buta, jangan ikut campur urusan orang, atau seperti orang yang melihat anak kecil yang menyeberangi jalan sedangkan kendaraan demikian banyaknya, kemudian dengan alasan sayang dan tidak ingin mengganggu kesenangan anak kecil, biarkan saja, akhirnya bisa ketabrak kendaraan.
Maka tugas dai menyampaikan dan setiap kita mempunyai kewajiban sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.

Dalam dakwah seringkali kita menemukan hambatan penolakan, cibiran, hinaan atau kita tahu orang ini keras kepala, ingat tugas kita hanya menyampaikan, setelah kita menyampaikan, kita sudah punya alasan nanti di hadapan Allah Swt untuk membebaskan diri kita  dari tanggungjawab sebagai orang yang tahu kebenaran dan tahu kemungkaran, kalau tidak kita diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah, kenapa membiarkan kemungkaran dan tidak memberikan nasehat, dalam surat Al A’raf [7] ayat 164
“dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang Amat keras?" mereka menjawab: "Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

Ada orang-orang yang memberikan nasehat kepada pelaku-pelaku maksiat, pelaku dosa, dia diabaikan, dihina dilecehkan, ditertawakan, lalu sebagian orang menyatakan,”ngapain lagi kasih nasehat kepada pelaku maksiat itu, mereka pasti akan dibinasakan, diazab Allah, sudah biarkan saja, lalu dai itu menjawab,”Kami memberikan nasehat itu sebagai hujjah  bagi kami nanti di hadapan Allah untuk melepaskan diri dari tanggungjawab sebagai orang yang tahu agar tidak ikut diazab karena membiarkan perbuatan dosa yang dilakukan, siapa tahu mereka sadar dengan sedikit nasehat, maka selesai tugas kita sebagai dai, diterima atau tidak diterima yang penting kita yang pertama kali yang bisa melepaskan tanggungjawab dari pundak kita bukan di dunia tapi di akherat di hadapan Allah Swt.

Maka seorang dai harus berbahagia, karena  menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran sudah menyelesaikan tugasnya, diterima atau tidak,  dipercaya atau tidak, melakukan atau tidak, itu bukan tanggungjawab kita di hadapan Allah ‘Azza Wajalla.

Keutamaan Dakwah
Dakwah Ilallah, yaitu dakwah menuju Allah, bagaimana perintah untuk melakukan dakwah, pujian Allah‘Azza Wajalla kepada orang yang melakukan dakwah.
Haq dan batil pasti berperang sampai akhir zaman, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya, ketika nanti Islam jadi penguasa di dunia sebelum kiamat datang, kemudian terjadilah kiamat dan datanglah yaumul………yaitu hari keputusan, sehingga jelas semuanya mana yang hak dan mana yang batil.

Dakwah dalam artian bahasa; menyeru manusia, tak peduli kepada apa mereka menyeru, hal itu dilakukan oleh ahlul haq dan ahlul batil, ahlul batil juga mengajak manusia kepada kebatilannya, orang kafir mengajak kepada kekafirannya, orang sesat mengajak orang kepada kesesatannya, ahlul haq mengajak kepada yang haq, kita lihat orang kafir, orang Nasrani umpamanya berusaha keras mengajak manusia terutama kaum muslimin untuk nasrani dengan berbagai cara seperti memberikan bantuan berupa mie, beras, pengobatan dan lain-lainnya, lalu apa yang bisa kita ambil pelajaran dari mereka? Apa yang bisa kita ambil dari dakwah orang-orang kafir, dakwah orang-orang sesat, dakwah yang tidak menuju Allah Azza Wajalla, adalah bahwa mereka mencurahkan segalanya untuk dakwah menuju kesesatan, sehingga kita tak heran menemukan seorang misionaris di Afrika sudah tinggal 10 tahun di hutan belantara dengan segala keterbatasannya  mendakwahkan kesesatan nasrani, meninggalkan keluarga, hidup apa adanya bahkan mengorbankan hartanya padahal dia mengiring dirinya dan manusia menuju neraka, sementara yang mereka lihat kebanyakan ahlul haq kaum muslimin berdakwah tidak siap mengorbankan hidupnya untuk dakwah.

Makanya dakwah yang tidak sepenuhnya diberikan oleh pelakunya pengorbanan yang sesungguhnya akan kalah dengan dakwah yang batil dengan totalitas yang luar biasa, bukan berarti kita harus sengsara, dimana kita hidup, berikan secara totalitas, berkecupukan hidup tidak dilarang, lihat para sahabat nabi dan nabi Saw pun pernah hidup kaya bersama Khadijah Ra, beliau  teladan dalam kaya dan miskin, para sahabat nabi Abu Bakar Ash-shiddiq pedagang yang kaya, Abdurrahman bin Auf, yang hartanya berlimpah tidak terhingga, sehingga sampai istilahnya, batu dia balik bisa jadi harta, begitu mudahnya rezeki Abdurrahman bin Auf, dan beliau masuk satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga. Kaya boleh, namun tidak diperbudak oleh kekayaan, ada seorang di Arab Saudi bernama Sulaiman Ar Rajihi, dahulu dia seorang miskin, sekarang sudah mempunyai perusahaan yang banyak, termasuk orang ke 110 terkaya di dunia, jumlah infaqnya fi sabilillah, untuk dakwah, untuk orang-orang miskin yang tercatat dalam perusahaan 6,7 triliun yang sudah dia nafkahkan dan beliau ini sampai membuat muadzin dekat rumahnya malu karena dia lebih cepat datang ke masjid dari muadzin, sampai ketika muadzin itu terlambat, waktu sudah masuk, beliau yang azan, dalam usianya yang sudah tua, beliau hanya meminta dari perusahaan-perusahaannya, uang untuk mencukupi kebutuhan pokoknya; makan, pakaian, biaya rumah tangga seadanya, tidak diperbudak harta namun harta berlimpah datang kepadanya. 

Maka kita harus benar-benar memberikan totalitas hidup kita dalam bentuk apa yang kita miliki, apa saja yang kita miliki untuk dakwah ini; tenaga kita, fikiran, waktu kita, harta kita berapa yang kita sanggup untuk dakwah ini, Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda sampai bilangan yang Allah kehendaki bagi siapa  saja yang Allah kehendaki. Keutamaan dan pujian dakwah yang ditujukan kepada dai terdapat dalam surat Fushshilat  41;33
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerahkan diri?"

Secara manusiawi kita membutuhkan pujian, seperti pujian dari manusia, setelah khutbah orang menyampaikan,”mantap khutbahnya” pasti senang, namun alangkah bahagianya seorang dai, seorang muslim yang memujinya adalah Allah‘Azza Wajalla, sampai-sampai Allah memujinya “Tidak ada yang lebih baik perkataannya selain orang yang berdakwah”, lebih hebat pujian ini dari pada pujian manusia, itupun hanya sesaat. Siapakah ucapannya yang lebih ahsan, lebih baik, lebih indah, ahsan bukan hanya lebih baik artinya tapi akhlas [lebih ikhlas], ashwab [lebih benar], ajmal [lebih indah] dan lebih  tepat, semua makna yang baik tercakup dalam kata ahsan.

Allah mempertanyakan dalam arti, tidak ada yang lebih baik,  orang yang berdakwah kepada  Allah itulah yang lebih baik. Seorang dai menjadi teladan, berdakwah dengan beramal shaleh, teladan bagi dirinya dan bagi masyarakatnya, bukan hanya berbicara tanpa amal, bukan berarti seorang dai kalau dia belum melakukan sesuatu dia, tidak boleh mendakwahkan sesuatu tersebut, tunggu  dulu beramal maka tidak akan ada dakwah, tapi proses ini harus berjalan, kita mendakwahkan kebaikan seperti sedekah, kita tidak  mampu bersedekah banyak, tapi dakwah memberi motivasi diri kita dalam dakwah ini.

Seorang dai yang semakin menjiwai apa yang dia sampaikan dia akan semakin mudah untuk mengamalkannya dan menjadi teladan, namun kalau kita menunggu untuk sempurna, jadi manusia suci lalu berdakwah, maka tidak akan ada dakwah. Ini adalah salah satu hal oleh  orang-orang kafir, kalau ada orang yang berdakwah dikatakan,”jangan sok sucilah”, dalam islam tidak ada istilah manusia suci, yang ada istilah manusia bertaqwa, istilah suci hanya ada pada agama-agama kafir; Hindu, Budha, Nasrani, dalam islam dinyatakan oleh Allah, bila manusia berdosa lalu memohon ampun kepada Allah, diampuni dan diberikan syurga-Nya.

Dalam islam yang diwariskan oleh nabi Saw, tidak ada istilah manusia suci , sejak dari rasul, para sahabat, thabiit thabiin, tidak ada istilah suci,yang ada adsalah manusia Al Muttaqin, Al Muhsinun, Ash Shalihun, Ash Shiddiqun, Asy Syuhada’. Jangan takut dengan kata-kata “manusia suci” yang penting sampaikan, siapa tahu dengan menyampaikan itu termotivasi untuk mengamalkan apa yang belum diamalkan itu.
Dan bisa saja, dahulunya amal yang belum kita amalkan, lalu kita dakwahkan lalu menjadikan amal yang kita cintai untuk diamalkan.
Tiga sifat yang harus dilakukan oleh para dai yaitu;
1.      Berdakwah menuju Allah, yaitu kepada Allah‘Azza Wajalla
2.      Beramal shaleh
3.      Menyatakan diri sebagai muslim, artinya bangga menjadi seorang muslim yang berdakwah dan beramal shaleh.
Seorang dai tidak pernah dan tidak boleh merasa rendah diri karena yang memuji seorang dai adalah Allah‘Azza Wajalla, kalau sudah dipuji oleh  Allah‘Azza Wajalla maka tidak perlu mengharapkan pujian dari manusia.
Makna yang terkandung dalam da’a ilallah bahwa seorang dai tidak mengajak masyarakat untuk menjadi penggemarnya, untuk jadi jamaahnya, untuk menjadi fans beratnya, dia mengajak manusia menuju Allah, mencintai  Allah‘Azza Wajalla, mentaati Allah‘Azza Wajalla, takut kepada Allah‘Azza Wajalla, tidak peduli orang ini jadi pengikut, jamaah atau fans-nya, bukan ini tujuan dakwah, dia bahagia bila ada orang yang taat kepada Allah melalui dakwahnya, walau orang itu tidak memuji-muji dirinya, tidak mengikutinya kemana-mana.

Dia bahagia orang berhenti dari maksiat walaupun secara tidak lansung, bisa saja hanya mendengar melalui mik, maka konsistensi  keistiqamahan seorang dai menjadi contoh yang paling hebat. Pengajian di masjid secara rutin membuat jamaah semakin faham dengan islam  walaupun jamaah itu tidak hadir di masjid, dia hanya mendengarkan pada sebuah kedai kopi di dekat masjid itu, karena kajian di masjid itu secara rutin dengan materi yang berurut dan tersistim, akhirnya menggugah  pendengar di kedai itu untuk masuk ke masjid untuk belajar bersama.

            Allah memberikan hidayah kepada siapa saja, lebih menggembirakan bila hidayah itu diberikan melalui perantara kita, bukan tujuan kita mencari penggemar agar orang tertarik kepada kita, tapi ikhlaskan berdakwah karena mencari ridha Allah maka Allah tinggikan derajatnya.

            Dakwah yang disampaikan dengan hikmah dan sabar akan masuk ke dalam hati orang yang didakwahi.
Orang yang paling ingkar di bumi, yaitu Fir’aun, keingkaran Fir’aun mengaku sebagai tuhan, tidak ada keingkaran yang lebih besar dari  pada keingkaran  Fir’aun, tidak ada kesombongan yang lebih besar selain kesombongan Fir’aun. Seingkar-ingkarnya manusia, sebenarnya di hatinya masih mengakui kebenaran, tinggal dai lagi untuk melakukan dakwah dengan berbagai bentuk, dalam surat An Naml 27;14 Allah berfirman mengungkap hakekat Fir’aun, Haman dan tentaranya.
“dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”

Ayat ini berkaitan dengan Fir’aun dan bala tentaranya, yang tidak ada keingkaran yang lebih besar daripada keingkaran Fir’aun, kalau zaman kita ini baru taraf mengaku nabi, Fir’aun diatas itu, mengaku sebagai tuhan semesta alam, namun sejahat-jahat manusia ada fitrah di hatinya, tapi kesombongan dan kezaliman meninggalkan kebenaran dan melakukan kebatilan, sebenarnya mereka mengakui kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa As.

Kitapun harus yakin, seingkar-ingkarnya manusia, orang-orang yang melakukan maksiat sebenarnya masih ada  pengakuan kebenaran, tinggal bagaimana caranya dai mengekploitasi pengakuan kebenaran yang ada dalam hati mereka itu untuk muncul kepermukaan dan akhirnya mereka menyadari. Banyak sekali perkara yang tidak selesai dengan kekerasan, sungguh membahagiakan jika kita memperhatikan orang-orang itu sadar dan sungguh membahagiakan justru kita tidak tahu kalau dia sadar melalui kita, karena artinya Allah memelihara amal kita agar kita  tidak bangga dan sombong, Allah simpan pahalanya untuk kita di akherat, dalam surat Sajadah…………..

Ada  sebuah kisah di Tunisia, seorang dai dari Kuwait bernama Syaikh Hasan Al Husaini, dai ahli sunnah, beliau  berkunjung ke Tunisia untuk melihat tempat-tempat yang pernah menjadi sejarah kaum muslimin terutama para sahabat ketika menundukkan Afrika Utara dan mengislamkan penduduknya, menyebarkan islam, ketika berkunjung ke suatu tempat bernama Tal’ah, beliau dikagetkan dengan berita dari pemandu lokal, beliau tidak untuk wisata  tapi untuk berdakwah tapi berkunjung ke tempat ini, apa berita tersebut, tempat yang bersejarah penuh perjuangan, darah  para sahabat, darah  kaum muslimin menegakkan islam ternyata dinodai oleh perbuatan sebagian mereka, menjadikan tempat itu untuk berbuat maksiat oleh  perempuan nakal bahkan di siang hari, akhirnya syaikh Hasan Al Husaini memohon  pertologan kepada Allah Azza Wajalla dan menyerahkan diri kepada Allah, bertekad mendakwahi mereka, lalu dia datang ke tempat tersebut dan berbicara dengan yang punya wewenang, minta izin untuk menyampaikan nasehat, tidak lebih dan tidak masuk ke dalam, beliau tetap di luar, ketika beliau mulai berbicara, banyak yang keluar dari tempat itu lelaki dengan menutup wajah, tanda masih ada pengakuan bahwa yang mereka lakukan adalah dosa.
Para wanita yang dinasehati itu mulai menangis satu persatu, tanda masih ada iman dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa, bahkan ada yang berkata, “Ya Syaikh, kami juga takut dengan azab Allah, tunjukkan kami  jalan keluar, apa yang harus kami lakukan karena dosa kami sudah demikian banyak”, semakin menangis satu menangis yang lain.

Ini sebagai contoh terhadap kita untuk menyadarkan ummat, walaupun tidak sadar semua paling tidak ada yang sadar, mereka mungkin tidak pernah mendengarkan nasehat sehingga kebenaran yang mereka akui dalam jiwa mereka itu tertutup oleh kebatilan yang terus menerus mereka lakukan, maka seingkar-ingkar manusia kita harus yakin ada pengakuan terhadap kebenaran di dalam hati mereka itu.

Dalam surat Thaha 20;44 Nabi Musa dan Nabi Harun As, diperintahkan oleh Allah Azza Wajalla untuk mendatangi Fir’uan, manusia yang paling ingkar dalam sejarah manusia dan mengatakan kata-kata yang lemah lembut, bahkan dalam dakwah ini bukan keras dikedepankan tapi tegas, ada saatnya berlemah-lembut, siapa tahu dengan  lemah lembut itu hatinya mau terbuka;
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". [Thaha 20;44].

Dengan Fir’aun saja  kita diperintahkan untuk berkata berlemah-lembut, maka orang yang rendah dari Fir’aun lebih berhak untuk diperlakukan lemah-lembut, tapi bukan berarti kita tidak boleh tegas, harus tegas, dalam khutbah juga kita harus ada nada tinggi, bukan kasar, tapi menunjukkan tegas dan pentingnya satu perkara, ketika berhadapan dengan manusia secara ril di lapangan, misalnya dengan pelaku kejahatan, dia datang maka kitapun harus berlemah-lembut, sikap itu akan meruntuhkan kekasaran, tapi kita diuji dahulu dengan perangai-perangainya, siapa   tahu satu saat dia akan sadar.

Inilah tiga sifat para dai yang menjadikan pujian Allah kepada para dai, yang harus kita resapi dan fahami dari ayat ini, ayat  ini sangat tinggi kandungannya sehingga para ulama menjadikan ayat ini sebagai keutamaan dakwah yang tinggi karena Allah memujinya, kalau Allah sudah memujinya maka pasti Allah memberikan pahala disisi-Nya, tidak ada pujian yang melebihi pujian Allah Azza Wajalla. .[Mdr, 28 Muharam 1435.H/02 Desembar 2013.M]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar