Kajian
Islam
Forum
Mubaligh Cupak
25
Agustus 2013
Ust.
Asmon Nurijal LC
HAL-HAL POKOK
YANG HARUS ADA
PADA SEORANG DA’I
Seorang da’i dia
adalah penyeru, pembimbing, maka dia harus memiliki hal-hal pokok agar bisa
sukses sebagai seorang da’i, bukan sukses yang kita bayangkan, sukses
mendapatkan order atau sukses mendapatkan pendukung tapi sukses menurut
ketentuan Allah Ta’ala.
Artinya, da’i itu berada di atas jalan yang benar, mengajak
kepada yang benar, tidak peduli berapapun pengikutnya dan dia bertahan di jalan
yang benar, istiqamah sampai akhir hayatnya, tentu saja kebaikan dan kebenaran
yang dia bawa menyentuh hati secara tulus dan meresap di dalam hati.
Setiap kita punya kekurangan dan
kelebihan, mengajak kita untuk
introsfeksi diri, apa yang kurang dari kita, dakan kawan kita yang lebih
memiliki sesuatu bisakah kita belajar kepadanya atau kawan kita memiliki
kekurangan, hal mana dia tidak memiliki sesuatu sementara kita memilikinya,
bukan bersaing, ini merupakan konsep
Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa.
Jangan sampai kita bersaing, kemudian
membangun penyakit hasad karena ada kekurangan dan kelebihan, maka sungguh
berbahaya sekali, barang siapa ada penyakit hasad akan menghanguskan amal
seseorang.
1. Al Ikhlas
Ini
merupakan pokok atau pondasi dari segalanya, ikhlas karena Allah Swt. Ini
merupakan pokok diterimanya seluruh amal, kalau ikhlas tidak ada maka tidak ada
balasan bagi amal seseorang, berapapun amalnya. Ikhlas secara bahasa artinya
“memurnikan”. Bila ada produk bertuliskan Bahasa Arab “Khalis”, Khalis artinya
murni. Kalau akhlasha, yukhlishu, artinya memurnikan. Ikhlas artinya murni
untuk Allah Swt. Kalau murni itu tidak tercampur sedikitpun, tidak
diselewengkan kekiri ke kanan atau kepada apapun selain Allah Swt. Allah
berfirman dalam surat Az Zumar ayat 3 “Ketahuilah hanya milik Allah agama yang
murni” artinya agama yang murni hanya agama Allah dan hanya untuk Allahlah
kemurnian agama ini, dan niat yang murni hanya untuk Allah, berarti khabar
berisi untuk perintah memurnikan niat, memurnikan agama ini secara utuh,
termasuk pekerjaan pokok dalam menjaga kelestarian kehidupan Islam adalah
da’wah, maka para da’i harus membangunnya diatas keikhlasan. dan Allah Swt
dalam surat Al Baiyinah ayat 5.”Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali hanya
untuk menyembah Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini”.
Seluruh
Syariat Islam ini diikhlaskan untuk Allah,murni untuk Allah, maka orang yang menyinggahkan ibadah selain
kepada Allah baru kepada Allah, ini tidak murni, maka seoranga dai dalam
dakwahnya jangan mengharapkan kehidupan dunia, jangan mengharapkan pujian
manusia, jangan mengharapkan telunjuk manusia kepadanya, jangan mengharapkan
namanya disebut agar terdengar ke seluruh pelosok negeri, carilah ridha Allah
Swt, semua yang lainnya akan dia peroleh tanpa dia mengharapkannya, tapi orang
yang mengharapkan perkara dunia maka dia tidak akan mendapatkan ridha Allah
Swt. bahkan akan menumbuhkan kedengkian antar sesama, terjadi persaingan yang
tidak sehat, dalam pepatah Arab “Alhasudhu la ya sudu” [orang yang pendengki
tidak akan mulia], dengki tanda ketidak ikhlasan, orang yang pertama kali
mendapatkan bahaya pendengkian adalah pendengki itu sendiri, bukankah kita
melihat betapa banyak orang yang dengki dan betapa banyak orang yang didengki
namun kedengkian pendengki tidak pernah memalingkan nikmat Allah dari yang
didengki.
Lalu
apa yang boleh, yang boleh adalah Ilthibat atau Ghibthah adalah sikap ketika
ada orang yang mendapatkan nikmat dia gembira dengan nikmat itu karena
saudaranya berbahagia dan dia juga berharap kepada Allah agar dia diberi nikmat
seperti itu atau bahkan lebih, dengan usaha tentunya. Seperti ada yang pandai
dan berprestasi, kita juga terpacu untuk berprestasi seperti itu tanpa
mengharapkan dia jatuh. Selain itu orang tersebut jadi teladan dari
kebrehasilan yang sudah diraihnya, lain halnya hasad.
Hasad
ada dua, pertama agar orang lain celaka, kita tidak mendapatkan nikmat tidak
apa-apa, kedua orang celaka tapi kita mendapatkan sesuatu nikmat.
Kalau
kita mampu membunuh penyakit hasad maka keikhlasan akan lebih mudah kita
peroleh, orang yang mampu membunuh penyakit hasad dalam hatinya terhadap
siapapun kaum muslimin adalah orang yang memiliki hati penduduk syurga.
Dalam
musnad Imam Ahmad beliau meriwayatkan kisah Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra.
dengan seorang lelaki dari kalangan Anshar. Suatu hari Rasululah Saw sedang
duduk dengan para sahabat, lalu Rasulullah bersabda,”Akan lewat dihadapan
kalian sebentar lagi seorang lelaki dari penduduk syurga”, lalu tidak lama
lewat seorang lelaki dari kalangan Anshar, dia menjepit sendalnya, wajah dan
anggota wudhunya basah setelah berwudhu’, esok harinya kembali keadaan seperti
itu terjadi, Rasulullah Saw berkata lagi,” ,”Akan lewat dihadapan kalian sebentar
lagi seorang lelaki dari penduduk syurga”, lalu orang yang sama muncul dalam
keadaan yang sama, pada hari ketiga terjadi hal yang serupa dan yang muncul
kembali orang yang sama Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra, anaknya Amr Ibn Ash
penasaran, kenapa yang muncul orang ini, apa rahasia.
Dia
ingin tahu apa rahasia sehingga lelaki ini dijamin masuk syurga. Dia ikuti
lelaki ini sampai ke rumahnya, kemudian dia berkata, “Wahai Paman, ada masalah
Antara saya dengan ayah saya, jika engkau izinkan menginap di rumahmu tiga hari
maka saya akan menginap”, orang Anshar “Silahkan” maka Abdullah Ibnu Amr Ibn
Ash Ra tiga malam, selama tiga malam di rumah itu Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra
tidak melihat ibadah istimewa, ibadahnya standard, tidak ada qiyamul lail, maka
dia heran, hanya saja lelaki ini tidak mengucapkan kata-kata kecuali kata-kata
yang baik, kemudian setiap kali dia bolak balik dalam tidurnya dia selalu
menyebut Allah Swt. dengan takbir, tasbih dan tahmid hanya itu. Akhirnya
setelah selesai tiga malam Abdullah Ibnu Amr berkata, ‘Wahai Paman,
sesungguhnya tidak ada masalah antara saya dan ayah saya, hanya saja, saya
ingin tahu rahasia yang membuat engkau mencapai derajat syurga, karena
Rasulullah Saw berkata selama tiga hari kepada kami bahwa akan lewat dihadapan
kalian seorang penduduk syurga dan yang muncul selama tiga hari berturut-turut
adalah engkau, maka aku ingin tahu apa rahasia membuat engkau mencapai derajat
itu. Ini adalah sikap ghibtah dari Abdullah Ibn Amr.
Lelaki Anshar ini berkata dengan kerendahan hati,
“Tidak ada amalku kecuali apa yang kau lihat, tidak ku tambah dan tidak ku
kurangi, hanya itu ibadahku”, akhirnya Abdullah Ibnu Amr kecewa karena yang dia
lihat hanya ibadah standard, tidak ada yang istimewa, maka Abdullah Ibnu Amr
pamit, minta izin untuk pulang, tidak beberapa langkah lelaki tersebut
memanggilnya kembali, kemudian dia berkata dengan ucapan pertama “Tidak ada
amalku kecuali apa yang kau lihat, tidak ku tambah dan tidak ku kurangi, hanya
itu ibadahku, hanya saja, aku tidak mendapati dalam hatiku, dalam diriku
kecurangan terhadap kaum muslimin dan kedengkian terhadap siapapun dari kaum
muslimin atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya”. Lelaki ini tidak ada rasa
dengkinya kepada kaum muslimin.
Maka
kata Abdullah Ibnu Amr “Inilah yang menyebabkan engkau mencapai derajat syurga,
dan inilah yang tidak sanggup kami lakukan”. Para sahabat saja sulit untuk
menepis sifat hasad, apalagi kita manusia biasa, tapi jangan pesimis, justru
semakin berat tantangannya pahalanya semakin besar. Imam Thabrani meriwayatkan
bahwa Rasulullah bersabda,”Akan datang suatu zaman pada manusia, bagi orang
yang beramal dengan sunnah Nabi dizaman itu, pahala 50 orang mati syahid”, Umar
bin Khattab bertanya,”Dari kami atau dari mereka ya Rasulullah”, maksudnya 50
orang yang mati syahid ini dari sahabat engkau atau yang mati syahid dari zaman
mereka nanti, Rasulullah menjawab,”Bahkan dari kalian”.
Dizaman
yang sulit mengamalkan sunnah nabi maka orang yang mengamalkannya pahalanya
lebih besar yaitu pahalanya 50 orang mati syahid dari sahabat nabi.
Abdullah
Ibnu Amr kembali dengan gembira, bahwa hati yang bersih dari kedengkian
menunjukkan keikhlasan, inilah penghuni penduduk syurga,maka wajar lelaki yang
ibadahnya biasa saja, namun hatinya luar biasa, dijamin oleh Rasululah menjadi
penduduk syurga. Kenapa dikatakan hati penduduk syurga, karena hati penduduk
syurga tidak ada lagi kedengkian dan kebencian kepada sesama penduduk syurga,
Allah Swt berfirman dalam surat Hijr 15; 47,”dan
Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka
merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”
Melihat
nikmat saudaranya tanpa ada perasaan dengki, semua gembira, dan inilah janji
Allah dalam surat Maryam; 96 “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan
menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
Tidak
ada lag penyakit hati, ini tidak bisa diperoleh kecuali dengan keikhlasan dalam
dakwah, dengan ikhlas semua perkara dunia akan diikuti nanti, ketika tujuan
tertinggi kita inginkan maka yang dibawahnya akan didapat, tapi bila tujuan
kita tujuan terendah maka yang tertinggi tidak akan ktia gapai. Sikap ikhas ini
memang berat, para ulama dahulu berkata, tidaklah perjuangan yang berat melawan
sesuatu kecuali melawan keikhlasan hatiku, melawan niat, berjuang untuk
mengikhlaskan hati.
Ikhlas
bukan berarti tidak ada godaan, banyak godaan, disinilah perjuangan itu
dibutuhkan. Dalam surat Fushilat ; 33 Allah berfirman;“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku
Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Orang yang berdakwah menuju Allah pasti ikhlas, orang
yang ikhlas pasti mengajak kepada Allah, bukan berdakwah kepada dirinya, agar
banyak pengikutnya, agar banyak undangannya, agar banyak jadwal ceramahnya,
agar penuh jadwal ramadhannya.
2. Ash Shidqu Ma’Allah, Jujur Terhadap Allah Swt
Jujur
dalam keikhlasan, jujur dalam dakwah, tidak untuk menipu, tidak untuk
mengelabui dari orang-orang awam dari kaum muslimin, dan inilah banyaknya
kesesatan yang dibawa oleh orang-orang sekarang, mereka menggunakan Al Qur’an
dan Sunnah untuk menipu, ketidaktahuan kaum muslimin terhadap Al Qur’an atau
terhadap hadits-hadits nabi, dijadikan alat untuk menggiring mereka kepada
pemahaman yang mereka buat-buat melalui ajaran sesat lagi menyesatkan.
Sebagaimana
ada ajaran yang mengajarkan tentang infaq melalui potongan ayat dari surat Al
Kahfi ayat 19, dibaca ayat tersebut lalu digiring orang awam kepada pemahaman
yang salah. Ketika yang berbicara orang yang nampaknya mengerti Al Qur’an
sehingga orang awam mempercayainya. Potongan ayat itu menyatakan,”Maka utuslah
salah seorang dari kalian dengan uang perak kalian ini ke kota”.
Dengan
modal potongan ayat ini ajaran itu menyuruh pengikutnya untuk menginfakkan
hartanya ke kota. Katanya, bawa harta kalian lalu sedekahkan ke kota, sehingga
memiskinkan suatu desa karena sebagian besar dari orang awam mengikuti ajaran
ini.
Dalam
surat At Taubah ;53 ‘Katakanlah hai
Muhammad nafkahkanlah harta kalian dengan suka rela atau terpaksa, tidak akan
diterima dari kalian, sesungguhnya kalian adalah kaum yang fasik”.
Kenapa
kita disuruh berinfaq dengan suka rela atau terpaksa, tapi sedekah itu tidak
diterima, lalu digolongkan kepada kaum yang fasiq. Adapun makna dari ayat ini
adalah; ayat ini adalah ayat kepada orang munafiq, karena kekufuran dan
kemunafikan mereka, maka amal mereka tidak akan diterima. Ayat sebelumnya
menyebutkan karakter orang munafiq [9;54]“dan
tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya
melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak
mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan
(harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”
Al
Ahzab 33;23-24 “ di antara orang-orang
mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada
Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula)
yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), supaya Allah memberikan Balasan kepada
orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika
dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mereka
tidak merubah janji mereka, jujur dalam segala hal dan segala waktu. ada
manusia ketika sudah rajin beribadah,
dikala sudah senang lupa dengan janjinya. Tidak sedikit orang yang dalam kemaksiatannya
mendapat harta yang berlimpah, dikala susah dahulu, masjid dan mushalla
tempatnya berdiam. Ini namanya istidraj, orang yang mendapat nikmat dalam
kemaksiatannya, dia akan terjerumus dalam azab yang sangat pedih.
“Dan
Mereka tidak merubah janjinya” Kejujuran mereka tidak mereka rubah dan tidak
mereka gadaikan. Maka betapa besarnya janji ini.
Di
Suriah, seorang pemuda dikubur hidup-hidup karena mempertahakankan kalimah Laa
Ilaha Illallah, pemuda ini disuruh untuk mengucapkan kalimat “tidak ada tuhan
selain Bashar”. Dia diancam untuk dikubur hidup-hidup, bila dia mengucapkan apa
yang diperintahkan maka dia akan dibebaskan, karena tidak mau maka dia dikubur
hidup-hidup, dia mendapatkan kebahagiaan meninggal dalam keadaan menepati janji
kepada Allah Swt. Dunia dan isinya dia korban demi kalimah Laa Ilaaha Illallah,
ini merupakan ujud kejujuran kepada Allah.
Kita
tidak boleh meremehkan orang yang meninggikan kalimah syahadat ini. Sebagai
contoh, Kalimat syahadat ini dikumandangkan oleh Muadzin, bagaimana kita
menghargai para muadzin yang telah meninggikan kalimah syahadat, bila
kesejahteraan mereka tidak diperhatikan.
Kita harus jujur dalam niat, dakwah, dalam apa
yang kita sampaikan, termasuk ketika kita mendakwahkan, menyampaikan kebenaran
dan menjelaskan kebatilan agar masyarakat terhindar, ketika anggota keluarga
kita melakukan yang munrkar, kita tidak menjelaskan kebatilan perbuatan itu,
ketika orang lain yang berbuat kita bongkar semuanya. Kita berkewajiban
menjelaskan kebatilan itu, apakah keluarga kita pelakunya, kita tetap
menjelaskan perbuatan yang tidak benar itu, bukan untuk membuka aib orang lain.
Ini adalah keadilan yang Allah perintahkan kepada kaum muslimin dan ini salah
satu bukti kejujuran dan keistiqamahan. An Nisa 4;135
“Wahai orang-orang
yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi
saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari
kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi
saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu
kerjakan.”.
Ayat
ini menyebutkan tentang adil, adil bukan sama rata, adil itu menempatkan
sesuatu sesuai dengan tempatnya. Tidak boleh pilih-pilih dalam menentukan suatu
hukum, jangan karena orang kaya, kita segan menetapkan hukum, karena miskin
kita kasihan.
Allah
akan menghukum di dunia dan di akherat orang yang tidak jujur, orang yang tidak
ikhlas, orang yang menjadikan agama
Allah sebagai kendaraan untuk kepentingan di dunia sesaat, satu saat akan
jatuh, akan terlihat buah dakwahnya bahkan setelah kematiannya nanti, ada
seorang dai terkenal yang meninggal bahkan menjerumuskan orang ke dalam syirik,
kuburannya dijadikan tempat keramat.
Ada
pendapat yang menyatakan………………………………… “hati itu akan mencapai hati pula” hati
itu akan berpaut dan bertemu dengan hati pula, sesuatu yang disampaikan dari
hati yang paling dalam, dibangun di atas keikhlasan,dia akan menyentuh hati,
sesuatu yang tidak muncul dari hati, muncul hanya dari mulut, dari otak turun
ke mulut sampai ke telinga, kita melihat adanya masyarakat yang didakwahi,
masuk telinga kanan keluar telinga kiri, puluhan tahun didakwahi, silih
berganti da’inya, bukan hanya orang yang didakwahi itu yang salah, dai harus
introsfeksi diri, mungkin yang disampaikan hanya berasal dari ilmu kita, turun
ke mulut lalu selesai, maka diapun masuk ke telinga kanan keluar menguap ke
telinga kiri. Kalau disampaikan dari hati maka dia akan mencapai hati, bahkan
hati orang yang menolakpun akan tersentuh, namun dia menolaknya karena
kesombongannya, maka itu tanggung jawab dia.
3. Meneladani Nabi Muhammad Saw.
Dalam
arti yang utuh, dalam cara berdakwah, dalam metode dakwah, kalau dalam sarana
berdakwah tergantung perkembangan zaman. Meneladani Nabi Muhammad Saw dalam
berdakwah dan asfek kehidupan lainnya, karena nabilah yang diutus oleh Allah
Swt untuk menjelaskan kepada manusia tentang jalan Allah, tidak mungkin manusia
mengenal jalan Allah kecuali melalui Nabi
Saw, dengan mengikutinya, sehingga mengikuti Nabi Saw, dijadikan bukti
cinta seorang hamba kepada Allah, siapapun mengaku mencintai Allah, dekat
dengan Allah, kalau dia tidak mengikuti nabi, sebenarnya dia tidak
mencintai Allah, Allahpun tidak
mencintainya. Ali Imran 3;31 “Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
Jika
Mencintai Allah maka ikutilah Rasulullah
Saw, ada dua keutamaan, Allah akan
mencintai orang yang mengikuti Rasulullah dan Allahpun akan mengampuni dosa
sebelumnya. Misalnya yang terlibat dengan kesyirikan, terlibat dalam maksiat
atau terlibat dalam bid’ah, lalu tahu sunnah nabi akhirnya mengikuti sunnah
nabi, karena cinta Allah mengikuti nabi,maka dosanya akan Allah ampuni dan
Allah akan mencintainya. Yang penting itu adalah bukanlah pengakuan kita
mencintai Allah tapi yang lebih penting adalah Allah mencintai kita. Jika ingin
dicintai Allah maka ikuti nabi Saw.
Syarat
untuk dicintai Allah, adalah ikuti nabi, bila syarat untuk mengikuti nabi
dipenuhi maka diberi balasan, yaitu dicintai Allah dan diampuni dosanya. Yang
penting bukan pengakuan kita yang menyebutkan “Saya cinta kepada Allah, Allah
dekat dengan saya”, yang penting buktinya, yaitu dengan mengikuti nabi Muhammad
Saw. Jadi mengikuti nabi menjadi syarat untuk dicintai Allah Swt. Maka
berbahagialah orang yang berusaha menghidupkan sunnah nabi walaupun baru
sedikit.
Mengikuti
nabi adalah keniscayaan, bila tidak mengikuti nabi gugurlah dua poin diatas.
Karena dia akan mengajak manusia untuk mengikuti dirinya, sedangkan jalan
dirinya bukan jalan Allah Swt, jalan Allah itu hanya jalan yang ditunjukkan
oleh nabi. Surat Asy Syura 42;52-53
“dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu
(Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al
kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami
menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami
kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar
memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
“(yaitu) jalan
Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”
Jalan
yanglurus itu sudah diberikan Allah kepada nabi, maka kita harus mengikutinya,
sebagaimana doa kita dalam surat Al Fatihah agar diberi petunjuk jalan yang
lurus. Kita harus mengikuti orang yang sudah berada di jalan yang lurus,dia
mengajak di jalan yang lurus, dia memberi petunjuk di jalan yang lurus,
tentunya dia juga harus berada di jalan yang lurus, yaitu Nab Muhammad Saw.
Orang
yang berada di jalan yang sesat, tidak mungkin mengajak orang ke jalan yang
lurus. Orang yang selalu menyelisihi nabi Saw tidak mungkin mendapatkan jalan
yang lurus, begitu banyaknya orang yang mengaku membawa jalan yang lurus
padahal mereka tidak mengikuti jalan yang lurus yang dibawa oleh nabi.
Yang
mengajak ke jalan yang lurus adalah nabi Saw, Surat Al Mukminun 23; 73; “dan Sesungguhnya kamu benar-benar menyeru
mereka kepada jalan yang lurus.”.
Kita
harus mengikuti jalan lurus yang dibawa nabi, mengikuti kebenaran yang disampaikan nabi, dalam aqidah, dalam akhlak,
dalam ibadah, dalam adab, jangan sampai masyarakat menolak dakwah karena tidak
ada keteladanan dari seorang dai dalam mengikuti nabi Saw. yang dia pertahankan
nafsu, gengsi, seperti adanya dai yang minum dengan tangan kiri, lalu ada yang
menegur dengan baik, sang dai menjawab,”Tidak semua ajaran nabi kita ikuti”,
padahal makan dan minum dengan tangan kanan ajaran nabi sedangkan dengan tangan
kiri adalah ajaran setan.
Kewajiban
kita adalah saling menasehati, walaupun seorang dai, dia harus siap untuk
menerima nasehat dari orang lain, apalagi ajaran dan nasehat itu berasal
dari nabi Saw. Walaupun yang
menyampaikan kebenaran itu bukan dai dengan bahasa dan cara yang tidak benar
maka harus diterima,tidak boleh gengsi untuk menerimanya, jangan menolak
kebenaran karena yang menyampaikan kebenaran itu dengan cara tidak benar.
Ketika Umar bin Khatab saat menjabat sebagai
Khalifah, dia melarang wanita meminta mahar yang tinggi, lalu ditegur oleh seorang nenek, diingatkan
akan ayat Allah yang menunjukkan bolehnya seorang wanita meminta mahar yang
tinggi, tentu sesuai dengan kemampuan calon suaminya, nenek ini menyampaikan
surat An Nisa’ 4;20 “dan jika kamu ingin
mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada
seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali
dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan
jalan tuduhan yang Dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?”
Umar
bin Khattab menerima nasehat nenek itu, “Benarlah nenek ini, dan Umar yang
salah”. Ini menunjukkan kerendahan hati, ketulusan, keikhlasan dan kejujuran,
Umar lupa dan diingatkan oleh seorang nenek, dia tidak malu untuk menerima
kebenaran yang disampaikan nenek itu.
Banyak
perintah bahkan balasan syurga bagi orang yang meneladani nabi Saw, orang yang
menolak meneladani nabi, disebut oleh
nabi dalam haditsnya “orang yang enggan masuk syurga”. Hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Abu Hurairah dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah, nabi
bersabda,”Setiap ummatku akan masuk syurga kecuali yang enggan” para sahabat
bertanya,”Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?” Nabi menjawab.”Barangsiapa
yang mengikutiku maka dia pasti masuk syurga, maka barangsiapa yang
menyelisihiku berarti orang ini enggan masuk syurga”. [Mdr, 21 Muharam
1435.H/25 Novembar 2013.M]
4.
………
5.
………
6.
Sabar
7.
Teladan
Yang Baik
8.
Akhlak
Yang Baik
9.
Mencurahkan
Segala Potensi
10. Keyakinan yang
kuat, iman yang mantap bahwa petunjuk itu dari Allah
11. Memohon
pertolongan kepada Allah terus menerus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar