Senin, 02 Desember 2013

1. Hal-Hal Pokok Yang Harus dimiliki Da'i



Kajian Islam
Forum Mubaligh Cupak
25 Agustus 2013
Ust. Asmon Nurijal LC

HAL-HAL POKOK
YANG HARUS ADA PADA SEORANG DA’I

Seorang da’i dia adalah penyeru, pembimbing, maka dia harus memiliki hal-hal pokok agar bisa sukses sebagai seorang da’i, bukan sukses yang kita bayangkan, sukses mendapatkan order atau sukses mendapatkan pendukung tapi sukses menurut ketentuan Allah Ta’ala.

Artinya, da’i  itu berada di atas jalan yang benar, mengajak kepada yang benar, tidak peduli berapapun pengikutnya dan dia bertahan di jalan yang benar, istiqamah sampai akhir hayatnya, tentu saja kebaikan dan kebenaran yang dia bawa menyentuh hati secara tulus dan meresap di dalam hati.

Setiap kita punya kekurangan dan kelebihan,  mengajak kita untuk introsfeksi diri, apa yang kurang dari kita, dakan kawan kita yang lebih memiliki sesuatu bisakah kita belajar kepadanya atau kawan kita memiliki kekurangan, hal mana dia tidak memiliki sesuatu sementara kita memilikinya, bukan bersaing,  ini merupakan konsep Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa.

Jangan sampai kita bersaing, kemudian membangun penyakit hasad karena ada kekurangan dan kelebihan, maka sungguh berbahaya sekali, barang siapa ada penyakit hasad akan menghanguskan amal seseorang.

1.      Al Ikhlas

Ini merupakan pokok atau pondasi dari segalanya, ikhlas karena Allah Swt. Ini merupakan pokok diterimanya seluruh amal, kalau ikhlas tidak ada maka tidak ada balasan bagi amal seseorang, berapapun amalnya. Ikhlas secara bahasa artinya “memurnikan”. Bila ada produk bertuliskan Bahasa Arab “Khalis”, Khalis artinya murni. Kalau akhlasha, yukhlishu, artinya memurnikan. Ikhlas artinya murni untuk Allah Swt. Kalau murni itu tidak tercampur sedikitpun, tidak diselewengkan kekiri ke kanan atau kepada apapun selain Allah Swt. Allah berfirman dalam surat Az Zumar ayat 3 “Ketahuilah hanya milik Allah agama yang murni” artinya agama yang murni hanya agama Allah dan hanya untuk Allahlah kemurnian agama ini, dan niat yang murni hanya untuk Allah, berarti khabar berisi untuk perintah memurnikan niat, memurnikan agama ini secara utuh, termasuk pekerjaan pokok dalam menjaga kelestarian kehidupan Islam adalah da’wah, maka para da’i harus membangunnya diatas keikhlasan. dan Allah Swt dalam surat Al Baiyinah ayat 5.”Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini”.

Seluruh Syariat Islam ini diikhlaskan untuk Allah,murni untuk Allah,  maka orang yang menyinggahkan ibadah selain kepada Allah baru kepada Allah, ini tidak murni, maka seoranga dai dalam dakwahnya jangan mengharapkan kehidupan dunia, jangan mengharapkan pujian manusia, jangan mengharapkan telunjuk manusia kepadanya, jangan mengharapkan namanya disebut agar terdengar ke seluruh pelosok negeri, carilah ridha Allah Swt, semua yang lainnya akan dia peroleh tanpa dia mengharapkannya, tapi orang yang mengharapkan perkara dunia maka dia tidak akan mendapatkan ridha Allah Swt. bahkan akan menumbuhkan kedengkian antar sesama, terjadi persaingan yang tidak sehat, dalam pepatah Arab “Alhasudhu la ya sudu” [orang yang pendengki tidak akan mulia], dengki tanda ketidak ikhlasan, orang yang pertama kali mendapatkan bahaya pendengkian adalah pendengki itu sendiri, bukankah kita melihat betapa banyak orang yang dengki dan betapa banyak orang yang didengki namun kedengkian pendengki tidak pernah memalingkan nikmat Allah dari yang didengki.

Lalu apa yang boleh, yang boleh adalah Ilthibat atau Ghibthah adalah sikap ketika ada orang yang mendapatkan nikmat dia gembira dengan nikmat itu karena saudaranya berbahagia dan dia juga berharap kepada Allah agar dia diberi nikmat seperti itu atau bahkan lebih, dengan usaha tentunya. Seperti ada yang pandai dan berprestasi, kita juga terpacu untuk berprestasi seperti itu tanpa mengharapkan dia jatuh. Selain itu orang tersebut jadi teladan dari kebrehasilan yang sudah diraihnya, lain halnya hasad.

Hasad ada dua, pertama agar orang lain celaka, kita tidak mendapatkan nikmat tidak apa-apa, kedua orang celaka tapi kita mendapatkan sesuatu nikmat.

Kalau kita mampu membunuh penyakit hasad maka keikhlasan akan lebih mudah kita peroleh, orang yang mampu membunuh penyakit hasad dalam hatinya terhadap siapapun kaum muslimin adalah orang yang memiliki hati penduduk syurga.

Dalam musnad Imam Ahmad beliau meriwayatkan kisah Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra. dengan seorang lelaki dari kalangan Anshar. Suatu hari Rasululah Saw sedang duduk dengan para sahabat, lalu Rasulullah bersabda,”Akan lewat dihadapan kalian sebentar lagi seorang lelaki dari penduduk syurga”, lalu tidak lama lewat seorang lelaki dari kalangan Anshar, dia menjepit sendalnya, wajah dan anggota wudhunya basah setelah berwudhu’, esok harinya kembali keadaan seperti itu terjadi, Rasulullah Saw berkata lagi,” ,”Akan lewat dihadapan kalian sebentar lagi seorang lelaki dari penduduk syurga”, lalu orang yang sama muncul dalam keadaan yang sama, pada hari ketiga terjadi hal yang serupa dan yang muncul kembali orang yang sama Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra, anaknya Amr Ibn Ash penasaran, kenapa yang muncul orang ini, apa rahasia.

Dia ingin tahu apa rahasia sehingga lelaki ini dijamin masuk syurga. Dia ikuti lelaki ini sampai ke rumahnya, kemudian dia berkata, “Wahai Paman, ada masalah Antara saya dengan ayah saya, jika engkau izinkan menginap di rumahmu tiga hari maka saya akan menginap”, orang Anshar “Silahkan” maka Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra tiga malam, selama tiga malam di rumah itu Abdullah Ibnu Amr Ibn Ash Ra tidak melihat ibadah istimewa, ibadahnya standard, tidak ada qiyamul lail, maka dia heran, hanya saja lelaki ini tidak mengucapkan kata-kata kecuali kata-kata yang baik, kemudian setiap kali dia bolak balik dalam tidurnya dia selalu menyebut Allah Swt. dengan takbir, tasbih dan tahmid hanya itu. Akhirnya setelah selesai tiga malam Abdullah Ibnu Amr berkata, ‘Wahai Paman, sesungguhnya tidak ada masalah antara saya dan ayah saya, hanya saja, saya ingin tahu rahasia yang membuat engkau mencapai derajat syurga, karena Rasulullah Saw berkata selama tiga hari kepada kami bahwa akan lewat dihadapan kalian seorang penduduk syurga dan yang muncul selama tiga hari berturut-turut adalah engkau, maka aku ingin tahu apa rahasia membuat engkau mencapai derajat itu. Ini adalah sikap ghibtah dari Abdullah Ibn Amr.

 Lelaki Anshar ini berkata dengan kerendahan hati, “Tidak ada amalku kecuali apa yang kau lihat, tidak ku tambah dan tidak ku kurangi, hanya itu ibadahku”, akhirnya Abdullah Ibnu Amr kecewa karena yang dia lihat hanya ibadah standard, tidak ada yang istimewa, maka Abdullah Ibnu Amr pamit, minta izin untuk pulang, tidak beberapa langkah lelaki tersebut memanggilnya kembali, kemudian dia berkata dengan ucapan pertama “Tidak ada amalku kecuali apa yang kau lihat, tidak ku tambah dan tidak ku kurangi, hanya itu ibadahku, hanya saja, aku tidak mendapati dalam hatiku, dalam diriku kecurangan terhadap kaum muslimin dan kedengkian terhadap siapapun dari kaum muslimin atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya”. Lelaki ini tidak ada rasa dengkinya  kepada kaum muslimin.

Maka kata Abdullah Ibnu Amr “Inilah yang menyebabkan engkau mencapai derajat syurga, dan inilah yang tidak sanggup kami lakukan”. Para sahabat saja sulit untuk menepis sifat hasad, apalagi kita manusia biasa, tapi jangan pesimis, justru semakin berat tantangannya pahalanya semakin besar. Imam Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,”Akan datang suatu zaman pada manusia, bagi orang yang beramal dengan sunnah Nabi dizaman itu, pahala 50 orang mati syahid”, Umar bin Khattab bertanya,”Dari kami atau dari mereka ya Rasulullah”, maksudnya 50 orang yang mati syahid ini dari sahabat engkau atau yang mati syahid dari zaman mereka nanti, Rasulullah menjawab,”Bahkan dari kalian”.

Dizaman yang sulit mengamalkan sunnah nabi maka orang yang mengamalkannya pahalanya lebih besar yaitu pahalanya 50 orang mati syahid dari sahabat nabi.

Abdullah Ibnu Amr kembali dengan gembira, bahwa hati yang bersih dari kedengkian menunjukkan keikhlasan, inilah penghuni penduduk syurga,maka wajar lelaki yang ibadahnya biasa saja, namun hatinya luar biasa, dijamin oleh Rasululah menjadi penduduk syurga. Kenapa dikatakan hati penduduk syurga, karena hati penduduk syurga tidak ada lagi kedengkian dan kebencian kepada sesama penduduk syurga, Allah Swt berfirman dalam surat Hijr 15; 47,”dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

Melihat nikmat saudaranya tanpa ada perasaan dengki, semua gembira, dan inilah janji Allah dalam surat Maryam; 96 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”

Tidak ada lag penyakit hati, ini tidak bisa diperoleh kecuali dengan keikhlasan dalam dakwah, dengan ikhlas semua perkara dunia akan diikuti nanti, ketika tujuan tertinggi kita inginkan maka yang dibawahnya akan didapat, tapi bila tujuan kita tujuan terendah maka yang tertinggi tidak akan ktia gapai. Sikap ikhas ini memang berat, para ulama dahulu berkata, tidaklah perjuangan yang berat melawan sesuatu kecuali melawan keikhlasan hatiku, melawan niat, berjuang untuk mengikhlaskan hati.

Ikhlas bukan berarti tidak ada godaan, banyak godaan, disinilah perjuangan itu dibutuhkan. Dalam surat Fushilat ; 33 Allah berfirman;“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Orang yang  berdakwah menuju Allah pasti ikhlas, orang yang ikhlas pasti mengajak kepada Allah, bukan berdakwah kepada dirinya, agar banyak pengikutnya, agar banyak undangannya, agar banyak jadwal ceramahnya, agar penuh jadwal ramadhannya.

2.      Ash Shidqu Ma’Allah, Jujur Terhadap Allah Swt
Jujur dalam keikhlasan, jujur dalam dakwah, tidak untuk menipu, tidak untuk mengelabui dari orang-orang awam dari kaum muslimin, dan inilah banyaknya kesesatan yang dibawa oleh orang-orang sekarang, mereka menggunakan Al Qur’an dan Sunnah untuk menipu, ketidaktahuan kaum muslimin terhadap Al Qur’an atau terhadap hadits-hadits nabi, dijadikan alat untuk menggiring mereka kepada pemahaman yang mereka buat-buat melalui ajaran sesat lagi menyesatkan.

Sebagaimana ada ajaran yang mengajarkan tentang infaq melalui potongan ayat dari surat Al Kahfi ayat 19, dibaca ayat tersebut lalu digiring orang awam kepada pemahaman yang salah. Ketika yang berbicara orang yang nampaknya mengerti Al Qur’an sehingga orang awam mempercayainya. Potongan ayat itu menyatakan,”Maka utuslah salah seorang dari kalian dengan uang perak kalian ini ke kota”.

Dengan modal potongan ayat ini ajaran itu menyuruh pengikutnya untuk menginfakkan hartanya ke kota. Katanya, bawa harta kalian lalu sedekahkan ke kota, sehingga memiskinkan suatu desa karena sebagian besar dari orang awam mengikuti ajaran ini.

Dalam surat At Taubah ;53 ‘Katakanlah hai Muhammad nafkahkanlah harta kalian dengan suka rela atau terpaksa, tidak akan diterima dari kalian, sesungguhnya kalian adalah kaum yang fasik”.

Kenapa kita disuruh berinfaq dengan suka rela atau terpaksa, tapi sedekah itu tidak diterima, lalu digolongkan kepada kaum yang fasiq. Adapun makna dari ayat ini adalah; ayat ini adalah ayat kepada orang munafiq, karena kekufuran dan kemunafikan mereka, maka amal mereka tidak akan diterima. Ayat sebelumnya menyebutkan karakter orang munafiq [9;54]“dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”

Al Ahzab 33;23-24 “ di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mereka tidak merubah janji mereka, jujur dalam segala hal dan segala waktu. ada manusia ketika  sudah rajin beribadah, dikala sudah senang lupa dengan janjinya. Tidak sedikit orang yang dalam kemaksiatannya mendapat harta yang berlimpah, dikala susah dahulu, masjid dan mushalla tempatnya berdiam. Ini namanya istidraj, orang yang mendapat nikmat dalam kemaksiatannya, dia akan terjerumus dalam azab yang sangat pedih.

“Dan Mereka tidak merubah janjinya” Kejujuran mereka tidak mereka rubah dan tidak mereka gadaikan. Maka betapa besarnya janji ini.

Di Suriah, seorang pemuda dikubur hidup-hidup karena mempertahakankan kalimah Laa Ilaha Illallah, pemuda ini disuruh untuk mengucapkan kalimat “tidak ada tuhan selain Bashar”. Dia diancam untuk dikubur hidup-hidup, bila dia mengucapkan apa yang diperintahkan maka dia akan dibebaskan, karena tidak mau maka dia dikubur hidup-hidup, dia mendapatkan kebahagiaan meninggal dalam keadaan menepati janji kepada Allah Swt. Dunia dan isinya dia korban demi kalimah Laa Ilaaha Illallah, ini merupakan ujud kejujuran kepada Allah.

Kita tidak boleh meremehkan orang yang meninggikan kalimah syahadat ini. Sebagai contoh, Kalimat syahadat ini dikumandangkan oleh Muadzin, bagaimana kita menghargai para muadzin yang telah meninggikan kalimah syahadat, bila kesejahteraan mereka tidak diperhatikan.

 Kita harus jujur dalam niat, dakwah, dalam apa yang kita sampaikan, termasuk ketika kita mendakwahkan, menyampaikan kebenaran dan menjelaskan kebatilan agar masyarakat terhindar, ketika anggota keluarga kita melakukan yang munrkar, kita tidak menjelaskan kebatilan perbuatan itu, ketika orang lain yang berbuat kita bongkar semuanya. Kita berkewajiban menjelaskan kebatilan itu, apakah keluarga kita pelakunya, kita tetap menjelaskan perbuatan yang tidak benar itu, bukan untuk membuka aib orang lain. Ini adalah keadilan yang Allah perintahkan kepada kaum muslimin dan ini salah satu bukti kejujuran dan keistiqamahan. An Nisa 4;135

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”.

Ayat ini menyebutkan tentang adil, adil bukan sama rata, adil itu menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Tidak boleh pilih-pilih dalam menentukan suatu hukum, jangan karena orang kaya, kita segan menetapkan hukum, karena miskin kita kasihan.

Allah akan menghukum di dunia dan di akherat orang yang tidak jujur, orang yang tidak ikhlas, orang yang menjadikan  agama Allah sebagai kendaraan untuk kepentingan di dunia sesaat, satu saat akan jatuh, akan terlihat buah dakwahnya bahkan setelah kematiannya nanti, ada seorang dai terkenal yang meninggal bahkan menjerumuskan orang ke dalam syirik, kuburannya dijadikan tempat keramat.

Ada pendapat yang menyatakan………………………………… “hati itu akan mencapai hati pula” hati itu akan berpaut dan bertemu dengan hati pula, sesuatu yang disampaikan dari hati yang paling dalam, dibangun di atas keikhlasan,dia akan menyentuh hati, sesuatu yang tidak muncul dari hati, muncul hanya dari mulut, dari otak turun ke mulut sampai ke telinga, kita melihat adanya masyarakat yang didakwahi, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, puluhan tahun didakwahi, silih berganti da’inya, bukan hanya orang yang didakwahi itu yang salah, dai harus introsfeksi diri, mungkin yang disampaikan hanya berasal dari ilmu kita, turun ke mulut lalu selesai, maka diapun masuk ke telinga kanan keluar menguap ke telinga kiri. Kalau disampaikan dari hati maka dia akan mencapai hati, bahkan hati orang yang menolakpun akan tersentuh, namun dia menolaknya karena kesombongannya, maka itu tanggung jawab dia.

3.      Meneladani Nabi Muhammad Saw.
Dalam arti yang utuh, dalam cara berdakwah, dalam metode dakwah, kalau dalam sarana berdakwah tergantung perkembangan zaman. Meneladani Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah dan asfek kehidupan lainnya, karena nabilah yang diutus oleh Allah Swt untuk menjelaskan kepada manusia tentang jalan Allah, tidak mungkin manusia mengenal jalan Allah kecuali melalui Nabi  Saw, dengan mengikutinya, sehingga mengikuti Nabi Saw, dijadikan bukti cinta seorang hamba kepada Allah, siapapun mengaku mencintai Allah, dekat dengan Allah, kalau dia tidak mengikuti nabi, sebenarnya dia tidak mencintai  Allah, Allahpun tidak mencintainya. Ali Imran 3;31 “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jika Mencintai  Allah maka ikutilah Rasulullah Saw,  ada dua keutamaan, Allah akan mencintai orang yang mengikuti Rasulullah dan Allahpun akan mengampuni dosa sebelumnya. Misalnya yang terlibat dengan kesyirikan, terlibat dalam maksiat atau terlibat dalam bid’ah, lalu tahu sunnah nabi akhirnya mengikuti sunnah nabi, karena cinta Allah mengikuti nabi,maka dosanya akan Allah ampuni dan Allah akan mencintainya. Yang penting itu adalah bukanlah pengakuan kita mencintai Allah tapi yang lebih penting adalah Allah mencintai kita. Jika ingin dicintai Allah maka ikuti nabi Saw.

Syarat untuk dicintai Allah, adalah ikuti nabi, bila syarat untuk mengikuti nabi dipenuhi maka diberi balasan, yaitu dicintai Allah dan diampuni dosanya. Yang penting bukan pengakuan kita yang menyebutkan “Saya cinta kepada Allah, Allah dekat dengan saya”, yang penting buktinya, yaitu dengan mengikuti nabi Muhammad Saw. Jadi mengikuti nabi menjadi syarat untuk dicintai Allah Swt. Maka berbahagialah orang yang berusaha menghidupkan sunnah nabi walaupun baru sedikit.

Mengikuti nabi adalah keniscayaan, bila tidak mengikuti nabi gugurlah dua poin diatas. Karena dia akan mengajak manusia untuk mengikuti dirinya, sedangkan jalan dirinya bukan jalan Allah Swt, jalan Allah itu hanya jalan yang ditunjukkan oleh nabi. Surat Asy Syura  42;52-53

dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
“(yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”

Jalan yanglurus itu sudah diberikan Allah kepada nabi, maka kita harus mengikutinya, sebagaimana doa kita dalam surat Al Fatihah agar diberi petunjuk jalan yang lurus. Kita harus mengikuti orang yang sudah berada di jalan yang lurus,dia mengajak di jalan yang lurus, dia memberi petunjuk di jalan yang lurus, tentunya dia juga harus berada di jalan yang lurus, yaitu Nab Muhammad Saw.

Orang yang berada di jalan yang sesat, tidak mungkin mengajak orang ke jalan yang lurus. Orang yang selalu menyelisihi nabi Saw tidak mungkin mendapatkan jalan yang lurus, begitu banyaknya orang yang mengaku membawa jalan yang lurus padahal mereka tidak mengikuti jalan yang lurus yang dibawa oleh nabi.

Yang mengajak ke jalan yang lurus adalah nabi Saw, Surat Al Mukminun 23; 73; “dan Sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.”.

Kita harus mengikuti jalan lurus yang dibawa nabi, mengikuti kebenaran yang  disampaikan nabi, dalam aqidah, dalam akhlak, dalam ibadah, dalam adab, jangan sampai masyarakat menolak dakwah karena tidak ada keteladanan dari seorang dai dalam mengikuti nabi Saw. yang dia pertahankan nafsu, gengsi, seperti adanya dai yang minum dengan tangan kiri, lalu ada yang menegur dengan baik, sang dai menjawab,”Tidak semua ajaran nabi kita ikuti”, padahal makan dan minum dengan tangan kanan ajaran nabi sedangkan dengan tangan kiri adalah ajaran setan.

Kewajiban kita adalah saling menasehati, walaupun seorang dai, dia harus siap untuk menerima nasehat dari orang lain, apalagi ajaran dan nasehat itu berasal dari  nabi Saw. Walaupun yang menyampaikan kebenaran itu bukan dai dengan bahasa dan cara yang tidak benar maka harus diterima,tidak boleh gengsi untuk menerimanya, jangan menolak kebenaran karena yang menyampaikan kebenaran itu dengan cara tidak benar.

 Ketika Umar bin Khatab saat menjabat sebagai Khalifah, dia melarang wanita meminta mahar yang tinggi,  lalu ditegur oleh seorang nenek, diingatkan akan ayat Allah yang menunjukkan bolehnya seorang wanita meminta mahar yang tinggi, tentu sesuai dengan kemampuan calon suaminya, nenek ini menyampaikan surat An Nisa’ 4;20 “dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang Dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?”

Umar bin Khattab menerima nasehat nenek itu, “Benarlah nenek ini, dan Umar yang salah”. Ini menunjukkan kerendahan hati, ketulusan, keikhlasan dan kejujuran, Umar lupa dan diingatkan oleh seorang nenek, dia tidak malu untuk menerima kebenaran yang disampaikan nenek itu.

Banyak perintah bahkan balasan syurga bagi orang yang meneladani nabi Saw, orang yang menolak meneladani nabi,  disebut oleh nabi dalam haditsnya “orang yang enggan masuk syurga”. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah, nabi bersabda,”Setiap ummatku akan masuk syurga kecuali yang enggan” para sahabat bertanya,”Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?” Nabi menjawab.”Barangsiapa yang mengikutiku maka dia pasti masuk syurga, maka barangsiapa yang menyelisihiku berarti orang ini enggan masuk syurga”. [Mdr, 21 Muharam 1435.H/25 Novembar 2013.M]
4.      ………
5.      ………
6.      Sabar
7.      Teladan Yang Baik
8.      Akhlak Yang Baik
9.      Mencurahkan Segala Potensi
10.  Keyakinan yang kuat, iman yang mantap bahwa petunjuk itu dari Allah
11.  Memohon pertolongan kepada Allah terus menerus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar