Senin, 02 Desember 2013

2. Metode Dakwah Kepada Orang Kafir



Kajian Islam
Forum Mubaligh Cupak
23 Juni 2013
Ust. Asmon Nurijal LC


METODE DAKWAH KEPADA ORANG KAFIR

Allah memberikan keutamaan orang yang berilmu sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Darda, “ Keutamaan orang yang berilmu diatas orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama diatas bintang-bintang di malam hari, bahkan Allah jadikan seluruh makhluk di langit dan di bumi sampai ikan-ikan di air memohonkan ampunan bagi orang-orang yang  berilmu”.

Seharusnya semakin kita belajar semakin banyak yang tidak kita ketahui, ada dua jenis manusia terhadap ilmu, pertama adalah orang yang optimis, dia semangat untuk terus menggali, yang kedua jenis yang pesimis, dia merasa tidak  mampu untuk bisa mempelajari semuanya, umur kita tidak sampai untuk belajar sebanyak itu.

Orang yang belajar, menggali ilmu, terus mencari ilmu tapi semakin kurang, ini adalah awal hilangnya kesombongan dari hati, yang berbahaya justru semakin belajar semakin merasa pintar dan merasa sudah cukup akhirnya tidak mau belajar, ini musibah yang lebih besar, kalau ada perasaan semakin kurang dan semangat untuk belajar itu merupakan awal yang baik, dilindungi Allah dari ujub, riya’ dan sombong dari apa yang sudah kita miliki.

Metode dakwah kepada orang kafir, juga bisa berlaku kepada kaum muslimin yang lalai, adalah mengingatkan mereka dari bahaya mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar yang sesat dan menyesatkan, mengingatkan mereka dari bahaya dai-dai di pintu neraka, mengingatkan mereka dari bahaya-bahaya orang seperti ini, dan mengikuti mereka akan musibah yang lebih besar yaitu azab dan laknat Allah Swt dari api neraka.

Karena umumnya manusia selalu menjadikan alasan, panutannya,  si Fulan pemimpinnya, pembesar-pembesar kaumnya, pemimpin-pemimpin kaumnya, itu yang dijadikan alasan  pedoman untuk diikuti, maka kalau kita mendakwahi seseorang, dia akan berkata,”Bagaimana dengan itu, bagaimana dengan ini”, sebutlah pembesar-pembesar, ini umumnya yang dijadikan  alasan untuk menolak kebenaran, maka kita harus mengingatkan bahwa  tidak ada ketaatan kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah”Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq”, jadi ketaatan kepada yang lain dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Jika dia menggiring kita kepada ketaatan kepada Allah maka kita ikuti, karena kita mentaati AllahSwt.ini bisa kita gambarkan dengan ayat-ayat Al Qur’an, dalam surat Al Baqarah 2;165-167
“dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”
“ (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”
“dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”

Ini ayat ditujukan kepada orang-orang musyrik, yang menjadikan tandingan dan sekutu-sekutu bagi Allah, mereka mencintai sekutu-sekutu itu sebagaimana mereka mencintai Allah, dan yang lebih buruk lagi, mereka mencintai sekutu-sekutu itu melebihi cinta mereka kepada Allah, ini lebih berbahaya. Maka lihat orang-orang yang suka beribadah di kuburan, menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan segala bentuknya, mereka begitu mati-matian membela tempat yang mereka keramatkan, namun mereka mengabaikan masjid di sekitar mereka. Kenapa mereka mengagungkan kuburan, padahal Rasulullah menyuruh untuk menghancurkan kuburan yang ditinggikan, kuburan yang dibangun diatas.

Mereka mencintai tandingan-tandingan Allah melebihi cintanya kepada Allah, sedangkan orang beriman lebih mencintai Allah, seandainya orang-orang yang zhalim itu, melihat dan mengetahui siksa pada hari kiamat dan bahwa kekuatan itu hanyalah milik Allah semata semuanya dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya. Yaitu pada hari kiamat nanti yang diikuti pemimpin-pemimpin yang diteladani di dunia yang menyesatkan,karena pengikutnya tidak mau meninggalkan pemimpinnya, akan berlepas diri dari yang mengikuti, yang diikuti menolak dengan alasan, hanya kalian saja yang menurut, kami tidak ada menyuruh kalian. Maka terjadilah penyesalan, mereka melihat azab sangat menakutkan, tidak dapat membayangkan betapa pedihnya azab Allah. 

Tidak ada hubungan lagi dengan pemimpin itu, akhirnya mereka menyesal dengan kalimat, seandainya kami kembali ke dunia, kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka telah berlepas diri dari kami. Ini bahayanya mengikuti pemimpin yang sesat dan menyesatkan, kita ingatkan orang-orang kafir yang kita dakwahi ataupun orang-orang muslim yang lalai atau tersesat jalannya, dari bahaya pemimpin yang menyesatkan.

Kalau penyesalan itu di dunia, masih beruntunglah, tapi kalau penyesalan itu di akherat, maka penyesalan tiada obatnya. Allah memperlihatkan kepada mereka, amal mereka jadi penyesalan tiada tara bagi mereka di akherat dan mereka tidaklah keluar dari api neraka, kekal di neraka, tidak mati, selalu siksa dan siksa.

Dalam surat ini, bahkan Iblis berkhutbah, secara umum, seorang manusia yang awam, seorang pengikut biasanya selalu hatinya tergantung kepada orang yang jadi panutan baginya, tak peduli orang itu salah, sesat, kufur, karena hatinya sudah tergantung kepada orang yang diikuti, ini yang sulit.
Dalam surat Ibrahim 14;21-22
“ dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya Kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan daripada Kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada Kami, niscaya Kami dapat memberi petunjuk kepadamu. sama saja bagi kita, Apakah kita mengeluh ataukah bersabar. sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri".

Yang dimaksud dengan orang-orang yang lemah, adalah pengikut yang mengikuti para pemimpin mereka yang sesat, mereka mengikuti jalan yang salah, padahal jalan hanya satu yaitu jalan Rasulullah Saw, siapapun yang diikuti selain nabi, nanti mereka akan berlepas diri dari pengikutnya. Karena merekapun menghadapi hisab, menghadapi azab, ketika itu saling tuding terjadi, tidak ada tempat untuk melarikan diri.
dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.
                Setelah ada keputusan dari Allah Swt, syaitan berkhutbah kepada pengikut-pengikutnya, mereka saling mengumpat dan saling mencaci, saling memusuhi, saling melaknati karena mereka akan menerima azab, dia “mengatakan bahwa Allah telah menjanjikan janji yang benar kepada kalian, Allah menjanjikan syurga dengan kenikmatan abadi, selamanya, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian sesuatu, tapi aku mengingkari janji itu”, janji syaitan itu adalah fatamorgana dan tipu daya, dia mengatakan,”aku hanya sekedar menyeru kalian, aku tidak punya kekuatan dan kekuasaan kecuali hanya memanggil, aku tidak bisa menolong kalian dan kalianpun tidak bisa menolong aku, sesungguhnya aku mengingkari apa yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, semua akan ditanggung sendiri oleh kalian”.

Surat Al Ahzab  33;66-68
“pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul".

Ketika azab berlansung di neraka, wajah dibolak-balikkan, seperti  kita membakar ubi, dibolak-balikkan agar rata,seorang yang punya iman di dadanya pasti bergetar, takut. Orang yang tidak mau taat kepada Allah dan Rasul, malah taat kepada pemimpin, pembesarnya, ulamanya atau kiyainya. Orang seperti ini kalau pemimpin mereka berkata, dia takut meninggalkan perintahnya, tapi perintah nabi, dia ringan saja meninggalkannya, mereka akan menyesal seandainya ketika di dunia dahulu mentaati  Allah dan rasul-Nya. “dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar).

Kita kadang berfikir salah, seperti diakan sudah haji, tidak mungkin dia sesat, sesuai tidak ajarannya dengan Qur’an dan Sunnah. Walaupun sudah sekian kali menunaikan ibadah haji tapi tidak tahu dengan Al Qur’an dan Sunnah maka kewajiban kita untuk mengingatkannya. Jangan kita beranggapan, orang yang sudah haji, sebagai buya atau ustadz tidak mungkin salah, yang maksum hanyalah Rasul. Pedoman kebenaran kita adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, yaitu ‘Atha’nallah wa atha’nar rasul”.

Hanya ini jalan selamat dari Allah, mengikuti pemimpin dan pembesar justru banyak menyesatkan dari jalan Allah Swt. Orang yang dipimpin ketika itu berdo’a kepada Allah;“Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".
Ketaatan kepada makhluk adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt.

Kita harus pandai mencari kata yang tepat untuk menyampaikan kepada kaum muslimin, yaitu kalimat yang menggugah, jangan dengan kalimat yang prontal, sehingga kaum muslimin menolak bahkan melecehkan karena dai dalam berdakwah mengeluarkan kalimat yang kasar, keras dan selalu menyalahkan, masalah bid’ah memang perlu dibahas tapi sampaikan dengan  hikmah. Contoh saja ketika kita berhadapan dengan masalah adat yang tidak sesuai dengan hukum Islam, ajaklah dialog yang sehat, seperti melontarkan pertanyaan ‘Kita ini makhluk siapa? orang yang beriman akan menjawab,”tentu makhluk Allah Swt”, kita ajukan pertanyaan,” mentaati Allah dan Rasul apakah kita berpahala? “ orang yang masih bagus imannya akan menjawab bahwa mentaati Allah dan Rasul itu berpahala”, lalu, “menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, berdosakah kita? orang yang beriman pasti  menyatakan ‘Iya”.  Mentaati adat berpahala atau tidak?’’ orang beriman pasti menjawab “tidak”, lalu kita Tanya,” meninggalkan adat berdosa atau tidak?”, jawabnya “tidak”.Kalau ada yang mengatakan mengerjakan adat mendapatkan pahala, siapa yang akan memberi pahala, kalau ada yang mengatakan meninggalkan adat berdosa, siapa yang akan mengazab kita?. kita tumbuhkan dan gugah iman yang tersembunyi di dalam dada, ketika muncul maka akan mudah untuk mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul dari pada taat kepada adat, padahal nenek moyang yang menciptakan adat itu kelak juga akan dihisab oleh Allah Swt.

Seandainya mereka tidak mau menerima kebenaran Islam, paling tidak mereka tidak mencela Al Qur’an dan Sunnah. Itulah makanya seorang dai berasal dari suatu kaum sehingga mengerti keadaan kaumnya sehingga dia bisa mengambil hikmah apa yang terjadi kemudian memberikan solusi yang sesuai.
Seharusnya kita memberdayakan dai lokal, tidak melebihkan forsi kepada dai terbang karena dai yang dari luar tidak tahu keadaan masyarakat, dia hanya memberikan ceramah yang sudah dipersiapkan dari rumah, setelah ceramah dia akan pergi tanpa bisa memberikan solusi, selain itu seorang dai lokal juga mempersiapkan diri dengan ilmu yang baik dalam berdakwah, apakah metodenya ataupun materinya.

Itulah tiga surat yang menyebutkan bahayanya mengikuti pemimpin yang sesat dan menyesatkan, Rasulullah Saw bersabda dalam riwayat Abu Daud, “Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian adalah para pemimpin atau imam-imam yang menyesatkan”, imam itu ada dua, imam agama yaitu ulama dan imam dunia yaitu pemimpin atau umara.

Nabi sudah mengingatkan, berarti ada pemimpin yang menyesatkan itu, jangan sampai kita berlogika,”Ah Masa buya menyesatkan pula”, ada, dalam istilah ulama disebut  …………………………………………………..[dai-dai yang duduk di pintu-pintu neraka], kita harus mengingatkan ummat ini dari ulama yang menyesatkan, ukuran kebenaran itu adalah Al Qur’an dan Sunnah. Kalau ada dai yang terkenal dengan Al Qur’an dan sunnah lalu dia tergelincir maka kewajiban kita untuk mengingatkannya, bukan sebagai dai yang sesat, dikatakan sesat karena memang sudah terkenal kesalahannya, betul atau benarnya itu jarang, bahkan dia dia  tidak  tahu kalau itu betul, hanya kebetulan dia betul, Kalau nabi sudah mengingatkan adanya pemimpin yang sesat berarti ada, karena nabi tidak pernah berdusta, kita tidak boleh memustahilkannya menurut logika kita.
1……
2……
3…….
4…….
5……
6…….
7…….
8……..

9. Mengingatkan orang kafir atau orang yang lalai dari kaum muslimin tentang nikmat-nikmat Allah Swt. Karakter ini banyak sekali, bahkan Allah memulai  perintah untuk beribadah kepada Allah dengan memaparkan nikmat-nikmat-Nya, memaparkan kekuasaan-kekuasaan Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya bahkan dalam diri kita.
Surat Adz Dzariyat 51;20-21  “dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?”

Yang ada pada diri kita begitu besar nikmat Allah seperti kalau ditanya ini rambut siapa, rambut kita, mata kita, hidung kita, gigi kita, mulut kita, seringkali orang mengatakan ini ketika dia melakukan dosa dengan nikmat yang diberikan Allah ini, untuk membenarkan perbuatan dosanya dengan menolak nasehat, ketika rambutnya yang tidak karuan, atau dosa yang dilakukan oleh mata, hidung, gigi dan mulut, saat dinasehati dia akan menjawab “rambut saya, mata saya , hidung saya , gigi saya, mulut saya”. Pada rambut saja begitu besar nikmat Allah, kita tidak mampu untuk menentukan dan mengatur rambut kita, kapan dia tumbuh, bagaimana bentuk rambut yang kita inginkan lurus atau keriting”. Yang kita akui sebagai milik kita tapi kita tidak kuasa untuk menentukannya sekehendak hati kita, contoh saja, jerawat yang tumbuh, luar biasa banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk jerawat saja, untuk iklannya, pabrik dan pegawainya. namun jerawat sampai hari ini tetap tumbuh bahkan ada yang putus asa untuk mengobatinya, hanya untuk satu jerawat telah menghabiskan hari untuk berfikir, hati rusuh, uang dipinjam kian kemari untuk mengobati jerawat, mana kekuasaan kita pada tubuh kita. Ketombe, berapa iklan shampo.

Kekuatan Allah ada pada diri kita, kita hanya menerima saja, jantung yang kita miliki, siapa yang mendetakkan, tidak mampu kita untuk menguasainya,  banyak orang yang gagal jantung, uangnya banyak, mobilnya entah berapa di garasi, dia bisa apa saja tapi ketika jantungnya sakit, berhenti, tidak mampu untuk menggerakkannya.

Banyak kekuasaan Allah pada diri kita, lambung, darah, otot, tulang, seluruhnya. Darah kita mengalir di seluruh tubuh kita, dipompa oleh jantung. Nikmat Allah yang diberikan kepada makhluk, sekian liter darah yang dipompa oleh jantung tidak terasa oleh kita, padahal darahnya mengalir mengikuti urat-urat di tubuh kita. Nikmat mana lagi yang kita ingkari, kita renungkan semua yang ada pada tubuh kita, bagaimana kuku yang kita miliki, setiap waktu tumbuh bahkan sunnah Rasulullah agar kita memotong kuku, kalau kita tidak bersyukur, kita telah menggunakan nikmat Allah mendurhakai yang menciptakan kita, nikmat yang diterima oleh orang kafir sama dengan apa yang kita terima, semua makhluk Allah mendapat nikmat yang sama, bukan mentang-mentang kafir lalu tidak mendapat nikmat dari Allah.

Alasan pertama, bahwa Allah memerintahkan untuk menyembah Dia semata, adalah Allah yang menciptakan, Tuhan yang disembah itu adalah yang mencipta, kalau ada tuhan yang disembah tidak mencipta maka dia bukanlah tuhan dan tidak berhak disembah, maka Allah Swt ketika memerintahkan manusia untuk menyembah, Allah paparkan nikmat yang pertama itu, Allah yang menciptakan mereka,  Surat Al Baqarah 2;21-22“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti, kalaulah Allah memerintahkan kita menyembah-Nya tanpa menjelaskan alasannya, itu adalah hak Allah Swt, akan tetapi Allah paparkan, jelaskan beberapa nikmat, “Yang telah Menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa ”.“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.”

Allah menghamparkan  bumi, bumi ini bulat, tidak terasa oleh kita, kecuali dari jarak yang sangat jauh, kalau kita merasakan bulatnya bumi dalam jarak dekat, bagaimana kita akan membangun bila tanah yang dibangun sudah cembung, baru saja dibangun bumi nampak bulat.  membentangkan bumi ini bagi kita agar bisa mendirikan bangunan, adanya sawah-sawah yang terhampar dan dataran yang lapang.

Dari langit diturunkan hujan, bayangkan andaikata tidak diturunkan hujan, emas berbongkah yang kita miliki tidak bisa diganti dengan nasi sepiring, dari air  saja sudah berapa nikmat Allah yang kita rasakan. Air merupakan sumber kehidupan makhluk, dalam surat Al Anbiya’ 21; 30“dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Makhluk hidup lebih membutuhkan air dari pada makan, air sumber kehidupan, Allah keluarkan buah-buahan dari segala tumbuh-tumbuhan di muka bumi setelah menyiram tanah yang tadinya kering, mati kering kerontang, kembali tumbuh hidup, menumbuhkan segala sesuatu yang ada diatasnya dan menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kita; nasi kita dari beras, beras dari padi yang tumbuh di sawah, tidak ada seorangpun dengan teknologi yang canggih sekalipun mampu menanam padi diatas marmar, semua makanan dan minuman berasal dari buah-buahan yang Allah tumbuhkan di muka bumi semuanya.

Secanggih apapun kehidupan yang kita alami tidak akan merubah kebutuhan kita, makan dan minum tetap dibutuhkan, Allah paparkan nikmat ini agar kita mau tunduk, menyembah Allah semata. Kalau sudah tahu semua nikmat itu dari Allah, kenapa tidak mau tunduk dan patuh kepada-Nya, malah mengalihkan ketundukan kepada yang lain, padahal yang disembah itu  bukan pemberi nikmat, bukan pengatur alam semesta bahkan merekapun butuh dengan nikmat Allah Swt, kenapa malah beribadah kepada mereka.
Surat Al Waqi’ah  56;63-72
63. Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
64. kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya?
65. kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan Dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang.
66. (sambil berkata): "Sesungguhnya Kami benar-benar menderita kerugian",
67. bahkan Kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.
68. Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
69. kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya?
70. kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan Dia asin, Maka Mengapakah kamu tidak bersyukur?
71. Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).
72. kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya?

Semua nikmat itu diberikan Allah kepada orang mukmin dan kafir, hal ini menandakan satu Tuhan Pencipat kita. Bumi , bulan, matahari kita satu, aturan-aturan dalam alam semesta satu, kalau lapar makan, orang kafir kalau lapar juga makan, ini merupakan sunnatullah, aturan alam ini hanya satu, inilah kekuatan islam. [Mdr, 24 Muharam 1435.H/28 Novembar 2013.M]
10…………
11………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar