Kajian Islam
Forum Mubaligh Cupak
23 Juni 2013
Ust. Asmon Nurijal LC
METODE DAKWAH KEPADA ORANG KAFIR
Allah
memberikan keutamaan orang yang berilmu sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang
diriwayatkan oleh Abu Darda, “ Keutamaan orang yang berilmu diatas orang yang
ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama diatas bintang-bintang di
malam hari, bahkan Allah jadikan seluruh makhluk di langit dan di bumi sampai
ikan-ikan di air memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berilmu”.
Seharusnya
semakin kita belajar semakin banyak yang tidak kita ketahui, ada dua jenis
manusia terhadap ilmu, pertama adalah orang yang optimis, dia semangat untuk
terus menggali, yang kedua jenis yang pesimis, dia merasa tidak mampu untuk bisa mempelajari semuanya, umur
kita tidak sampai untuk belajar sebanyak itu.
Orang
yang belajar, menggali ilmu, terus mencari ilmu tapi semakin kurang, ini adalah
awal hilangnya kesombongan dari hati, yang berbahaya justru semakin belajar
semakin merasa pintar dan merasa sudah cukup akhirnya tidak mau belajar, ini
musibah yang lebih besar, kalau ada perasaan semakin kurang dan semangat untuk
belajar itu merupakan awal yang baik, dilindungi Allah dari ujub, riya’ dan
sombong dari apa yang sudah kita miliki.
Metode
dakwah kepada orang kafir, juga bisa berlaku kepada kaum muslimin yang lalai,
adalah mengingatkan mereka dari bahaya mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar yang sesat dan menyesatkan, mengingatkan mereka dari bahaya
dai-dai di pintu neraka, mengingatkan mereka dari bahaya-bahaya orang seperti
ini, dan mengikuti mereka akan musibah yang lebih besar yaitu azab dan laknat
Allah Swt dari api neraka.
Karena
umumnya manusia selalu menjadikan alasan, panutannya, si Fulan pemimpinnya, pembesar-pembesar kaumnya,
pemimpin-pemimpin kaumnya, itu yang dijadikan alasan pedoman untuk diikuti, maka kalau kita
mendakwahi seseorang, dia akan berkata,”Bagaimana dengan itu, bagaimana dengan
ini”, sebutlah pembesar-pembesar, ini umumnya yang dijadikan alasan untuk menolak kebenaran, maka kita
harus mengingatkan bahwa tidak ada
ketaatan kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah”Tidak ada ketaatan
bagi makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq”, jadi ketaatan kepada yang lain
dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Jika dia menggiring kita kepada
ketaatan kepada Allah maka kita ikuti, karena kita mentaati AllahSwt.ini bisa
kita gambarkan dengan ayat-ayat Al Qur’an, dalam surat Al Baqarah 2;165-167
“dan diantara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat
cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu
kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal).”
“ (yaitu) ketika orang-orang yang
diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka
melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama
sekali.”
“dan berkatalah orang-orang yang
mengikuti: "Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan
berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami."
Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi
sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
Ini
ayat ditujukan kepada orang-orang musyrik, yang menjadikan tandingan dan
sekutu-sekutu bagi Allah, mereka mencintai sekutu-sekutu itu sebagaimana mereka
mencintai Allah, dan yang lebih buruk lagi, mereka mencintai sekutu-sekutu itu
melebihi cinta mereka kepada Allah, ini lebih berbahaya. Maka lihat orang-orang
yang suka beribadah di kuburan, menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dengan segala
bentuknya, mereka begitu mati-matian membela tempat yang mereka keramatkan,
namun mereka mengabaikan masjid di sekitar mereka. Kenapa mereka mengagungkan
kuburan, padahal Rasulullah menyuruh untuk menghancurkan kuburan yang
ditinggikan, kuburan yang dibangun diatas.
Mereka
mencintai tandingan-tandingan Allah melebihi cintanya kepada Allah, sedangkan
orang beriman lebih mencintai Allah, seandainya orang-orang yang zhalim itu,
melihat dan mengetahui siksa pada hari kiamat dan bahwa kekuatan itu hanyalah
milik Allah semata semuanya dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya. Yaitu pada
hari kiamat nanti yang diikuti pemimpin-pemimpin yang diteladani di dunia yang
menyesatkan,karena pengikutnya tidak mau meninggalkan pemimpinnya, akan
berlepas diri dari yang mengikuti, yang diikuti menolak dengan alasan, hanya
kalian saja yang menurut, kami tidak ada menyuruh kalian. Maka terjadilah
penyesalan, mereka melihat azab sangat menakutkan, tidak dapat membayangkan
betapa pedihnya azab Allah.
Tidak
ada hubungan lagi dengan pemimpin itu, akhirnya mereka menyesal dengan kalimat,
seandainya kami kembali ke dunia, kami akan berlepas diri dari mereka
sebagaimana mereka telah berlepas diri dari kami. Ini bahayanya mengikuti
pemimpin yang sesat dan menyesatkan, kita ingatkan orang-orang kafir yang kita
dakwahi ataupun orang-orang muslim yang lalai atau tersesat jalannya, dari
bahaya pemimpin yang menyesatkan.
Kalau
penyesalan itu di dunia, masih beruntunglah, tapi kalau penyesalan itu di
akherat, maka penyesalan tiada obatnya. Allah memperlihatkan kepada mereka,
amal mereka jadi penyesalan tiada tara bagi mereka di akherat dan mereka
tidaklah keluar dari api neraka, kekal di neraka, tidak mati, selalu siksa dan
siksa.
Dalam
surat ini, bahkan Iblis berkhutbah, secara umum, seorang manusia yang awam,
seorang pengikut biasanya selalu hatinya tergantung kepada orang yang jadi
panutan baginya, tak peduli orang itu salah, sesat, kufur, karena hatinya sudah
tergantung kepada orang yang diikuti, ini yang sulit.
Dalam
surat Ibrahim 14;21-22
“ dan mereka semuanya (di padang
Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang
yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya Kami dahulu
adalah pengikut-pengikutmu, Maka dapatkah kamu menghindarkan daripada Kami azab
Allah (walaupun) sedikit saja? mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi
petunjuk kepada Kami, niscaya Kami dapat memberi petunjuk kepadamu. sama saja
bagi kita, Apakah kita mengeluh ataukah bersabar. sekali-kali kita tidak
mempunyai tempat untuk melarikan diri".
Yang
dimaksud dengan orang-orang yang lemah, adalah pengikut yang mengikuti para
pemimpin mereka yang sesat, mereka mengikuti jalan yang salah, padahal jalan
hanya satu yaitu jalan Rasulullah Saw, siapapun yang diikuti selain nabi, nanti
mereka akan berlepas diri dari pengikutnya. Karena merekapun menghadapi hisab,
menghadapi azab, ketika itu saling tuding terjadi, tidak ada tempat untuk
melarikan diri.
dan berkatalah syaitan tatkala perkara
(hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu
janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku
menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan
(sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu
janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku
sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat
menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku
(dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu
mendapat siksaan yang pedih.
Setelah ada keputusan dari Allah
Swt, syaitan berkhutbah kepada pengikut-pengikutnya, mereka saling mengumpat
dan saling mencaci, saling memusuhi, saling melaknati karena mereka akan
menerima azab, dia “mengatakan bahwa Allah telah menjanjikan janji yang benar
kepada kalian, Allah menjanjikan syurga dengan kenikmatan abadi, selamanya, dan
akupun telah menjanjikan kepada kalian sesuatu, tapi aku mengingkari janji
itu”, janji syaitan itu adalah fatamorgana dan tipu daya, dia mengatakan,”aku
hanya sekedar menyeru kalian, aku tidak punya kekuatan dan kekuasaan kecuali
hanya memanggil, aku tidak bisa menolong kalian dan kalianpun tidak bisa
menolong aku, sesungguhnya aku mengingkari apa yang kalian jadikan sekutu bagi
Allah, semua akan ditanggung sendiri oleh kalian”.
Surat
Al Ahzab 33;66-68
“pada hari ketika muka mereka
dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata
Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul".
Ketika
azab berlansung di neraka, wajah dibolak-balikkan, seperti kita membakar ubi, dibolak-balikkan agar
rata,seorang yang punya iman di dadanya pasti bergetar, takut. Orang yang tidak
mau taat kepada Allah dan Rasul, malah taat kepada pemimpin, pembesarnya,
ulamanya atau kiyainya. Orang seperti ini kalau pemimpin mereka berkata, dia
takut meninggalkan perintahnya, tapi perintah nabi, dia ringan saja
meninggalkannya, mereka akan menyesal seandainya ketika di dunia dahulu
mentaati Allah dan rasul-Nya. “dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami,
Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami,
lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar).
Kita
kadang berfikir salah, seperti diakan sudah haji, tidak mungkin dia sesat,
sesuai tidak ajarannya dengan Qur’an dan Sunnah. Walaupun sudah sekian kali
menunaikan ibadah haji tapi tidak tahu dengan Al Qur’an dan Sunnah maka
kewajiban kita untuk mengingatkannya. Jangan kita beranggapan, orang yang sudah
haji, sebagai buya atau ustadz tidak mungkin salah, yang maksum hanyalah Rasul.
Pedoman kebenaran kita adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, yaitu
‘Atha’nallah wa atha’nar rasul”.
Hanya
ini jalan selamat dari Allah, mengikuti pemimpin dan pembesar justru banyak
menyesatkan dari jalan Allah Swt. Orang yang dipimpin ketika itu berdo’a kepada
Allah;“Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada
mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".
Ketaatan
kepada makhluk adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt.
Kita
harus pandai mencari kata yang tepat untuk menyampaikan kepada kaum muslimin,
yaitu kalimat yang menggugah, jangan dengan kalimat yang prontal, sehingga kaum
muslimin menolak bahkan melecehkan karena dai dalam berdakwah mengeluarkan
kalimat yang kasar, keras dan selalu menyalahkan, masalah bid’ah memang perlu
dibahas tapi sampaikan dengan hikmah.
Contoh saja ketika kita berhadapan dengan masalah adat yang tidak sesuai dengan
hukum Islam, ajaklah dialog yang sehat, seperti melontarkan pertanyaan ‘Kita
ini makhluk siapa? orang yang beriman akan menjawab,”tentu makhluk Allah Swt”,
kita ajukan pertanyaan,” mentaati Allah dan Rasul apakah kita berpahala? “
orang yang masih bagus imannya akan menjawab bahwa mentaati Allah dan Rasul itu
berpahala”, lalu, “menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, berdosakah kita? orang yang
beriman pasti menyatakan ‘Iya”. Mentaati adat berpahala atau tidak?’’ orang
beriman pasti menjawab “tidak”, lalu kita Tanya,” meninggalkan adat berdosa
atau tidak?”, jawabnya “tidak”.Kalau ada yang mengatakan mengerjakan adat
mendapatkan pahala, siapa yang akan memberi pahala, kalau ada yang mengatakan
meninggalkan adat berdosa, siapa yang akan mengazab kita?. kita tumbuhkan dan
gugah iman yang tersembunyi di dalam dada, ketika muncul maka akan mudah untuk
mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul dari pada taat kepada adat,
padahal nenek moyang yang menciptakan adat itu kelak juga akan dihisab oleh
Allah Swt.
Seandainya
mereka tidak mau menerima kebenaran Islam, paling tidak mereka tidak mencela Al
Qur’an dan Sunnah. Itulah makanya seorang dai berasal dari suatu kaum sehingga
mengerti keadaan kaumnya sehingga dia bisa mengambil hikmah apa yang terjadi
kemudian memberikan solusi yang sesuai.
Seharusnya
kita memberdayakan dai lokal, tidak melebihkan forsi kepada dai terbang karena
dai yang dari luar tidak tahu keadaan masyarakat, dia hanya memberikan ceramah
yang sudah dipersiapkan dari rumah, setelah ceramah dia akan pergi tanpa bisa
memberikan solusi, selain itu seorang dai lokal juga mempersiapkan diri dengan ilmu
yang baik dalam berdakwah, apakah metodenya ataupun materinya.
Itulah
tiga surat yang menyebutkan bahayanya mengikuti pemimpin yang sesat dan
menyesatkan, Rasulullah Saw bersabda dalam riwayat Abu Daud, “Sesungguhnya yang
aku takutkan atas kalian adalah para pemimpin atau imam-imam yang menyesatkan”,
imam itu ada dua, imam agama yaitu ulama dan imam dunia yaitu pemimpin atau
umara.
Nabi
sudah mengingatkan, berarti ada pemimpin yang menyesatkan itu, jangan sampai
kita berlogika,”Ah Masa buya menyesatkan pula”, ada, dalam istilah ulama disebut …………………………………………………..[dai-dai yang duduk di
pintu-pintu neraka], kita harus mengingatkan ummat ini dari ulama yang
menyesatkan, ukuran kebenaran itu adalah Al Qur’an dan Sunnah. Kalau ada dai
yang terkenal dengan Al Qur’an dan sunnah lalu dia tergelincir maka kewajiban
kita untuk mengingatkannya, bukan sebagai dai yang sesat, dikatakan sesat
karena memang sudah terkenal kesalahannya, betul atau benarnya itu jarang,
bahkan dia dia tidak tahu kalau itu betul, hanya kebetulan dia
betul, Kalau nabi sudah mengingatkan adanya pemimpin yang sesat berarti ada,
karena nabi tidak pernah berdusta, kita tidak boleh memustahilkannya menurut
logika kita.
1……
2……
3…….
4…….
5……
6…….
7…….
8……..
9.
Mengingatkan orang kafir atau orang yang lalai dari kaum muslimin tentang
nikmat-nikmat Allah Swt. Karakter ini banyak sekali, bahkan Allah memulai perintah untuk beribadah kepada Allah dengan
memaparkan nikmat-nikmat-Nya, memaparkan kekuasaan-kekuasaan Allah, tanda-tanda
kekuasaan-Nya bahkan dalam diri kita.
Surat
Adz Dzariyat 51;20-21 “dan di bumi itu terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri.
Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?”
Yang
ada pada diri kita begitu besar nikmat Allah seperti kalau ditanya ini rambut siapa,
rambut kita, mata kita, hidung kita, gigi kita, mulut kita, seringkali orang
mengatakan ini ketika dia melakukan dosa dengan nikmat yang diberikan Allah
ini, untuk membenarkan perbuatan dosanya dengan menolak nasehat, ketika
rambutnya yang tidak karuan, atau dosa yang dilakukan oleh mata, hidung, gigi
dan mulut, saat dinasehati dia akan menjawab “rambut saya, mata saya , hidung
saya , gigi saya, mulut saya”. Pada rambut saja begitu besar nikmat Allah, kita
tidak mampu untuk menentukan dan mengatur rambut kita, kapan dia tumbuh,
bagaimana bentuk rambut yang kita inginkan lurus atau keriting”. Yang kita akui
sebagai milik kita tapi kita tidak kuasa untuk menentukannya sekehendak hati
kita, contoh saja, jerawat yang tumbuh, luar biasa banyaknya biaya yang
dikeluarkan untuk jerawat saja, untuk iklannya, pabrik dan pegawainya. namun
jerawat sampai hari ini tetap tumbuh bahkan ada yang putus asa untuk
mengobatinya, hanya untuk satu jerawat telah menghabiskan hari untuk berfikir,
hati rusuh, uang dipinjam kian kemari untuk mengobati jerawat, mana kekuasaan
kita pada tubuh kita. Ketombe, berapa iklan shampo.
Kekuatan
Allah ada pada diri kita, kita hanya menerima saja, jantung yang kita miliki,
siapa yang mendetakkan, tidak mampu kita untuk menguasainya, banyak orang yang gagal jantung, uangnya
banyak, mobilnya entah berapa di garasi, dia bisa apa saja tapi ketika
jantungnya sakit, berhenti, tidak mampu untuk menggerakkannya.
Banyak
kekuasaan Allah pada diri kita, lambung, darah, otot, tulang, seluruhnya. Darah
kita mengalir di seluruh tubuh kita, dipompa oleh jantung. Nikmat Allah yang
diberikan kepada makhluk, sekian liter darah yang dipompa oleh jantung tidak
terasa oleh kita, padahal darahnya mengalir mengikuti urat-urat di tubuh kita.
Nikmat mana lagi yang kita ingkari, kita renungkan semua yang ada pada tubuh
kita, bagaimana kuku yang kita miliki, setiap waktu tumbuh bahkan sunnah
Rasulullah agar kita memotong kuku, kalau kita tidak bersyukur, kita telah
menggunakan nikmat Allah mendurhakai yang menciptakan kita, nikmat yang
diterima oleh orang kafir sama dengan apa yang kita terima, semua makhluk Allah
mendapat nikmat yang sama, bukan mentang-mentang kafir lalu tidak mendapat
nikmat dari Allah.
Alasan
pertama, bahwa Allah memerintahkan untuk menyembah Dia semata, adalah Allah
yang menciptakan, Tuhan yang disembah itu adalah yang mencipta, kalau ada tuhan
yang disembah tidak mencipta maka dia bukanlah tuhan dan tidak berhak disembah,
maka Allah Swt ketika memerintahkan manusia untuk menyembah, Allah paparkan nikmat
yang pertama itu, Allah yang menciptakan mereka, Surat Al Baqarah 2;21-22“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”
Akan
tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti, kalaulah Allah memerintahkan kita
menyembah-Nya tanpa menjelaskan alasannya, itu adalah hak Allah Swt, akan
tetapi Allah paparkan, jelaskan beberapa nikmat, “Yang telah Menciptakan kalian
dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa ”.“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai
atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan
hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu
Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.”
Allah
menghamparkan bumi, bumi ini bulat,
tidak terasa oleh kita, kecuali dari jarak yang sangat jauh, kalau kita
merasakan bulatnya bumi dalam jarak dekat, bagaimana kita akan membangun bila
tanah yang dibangun sudah cembung, baru saja dibangun bumi nampak bulat. membentangkan bumi ini bagi kita agar bisa
mendirikan bangunan, adanya sawah-sawah yang terhampar dan dataran yang lapang.
Dari
langit diturunkan hujan, bayangkan andaikata tidak diturunkan hujan, emas
berbongkah yang kita miliki tidak bisa diganti dengan nasi sepiring, dari
air saja sudah berapa nikmat Allah yang
kita rasakan. Air merupakan sumber kehidupan makhluk, dalam surat Al Anbiya’
21; 30“dan Apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Makhluk
hidup lebih membutuhkan air dari pada makan, air sumber kehidupan, Allah
keluarkan buah-buahan dari segala tumbuh-tumbuhan di muka bumi setelah menyiram
tanah yang tadinya kering, mati kering kerontang, kembali tumbuh hidup,
menumbuhkan segala sesuatu yang ada diatasnya dan menghasilkan buah-buahan
sebagai rezeki bagi kita; nasi kita dari beras, beras dari padi yang tumbuh di
sawah, tidak ada seorangpun dengan teknologi yang canggih sekalipun mampu
menanam padi diatas marmar, semua makanan dan minuman berasal dari buah-buahan
yang Allah tumbuhkan di muka bumi semuanya.
Secanggih
apapun kehidupan yang kita alami tidak akan merubah kebutuhan kita, makan dan
minum tetap dibutuhkan, Allah paparkan nikmat ini agar kita mau tunduk,
menyembah Allah semata. Kalau sudah tahu semua nikmat itu dari Allah, kenapa
tidak mau tunduk dan patuh kepada-Nya, malah mengalihkan ketundukan kepada yang
lain, padahal yang disembah itu bukan
pemberi nikmat, bukan pengatur alam semesta bahkan merekapun butuh dengan
nikmat Allah Swt, kenapa malah beribadah kepada mereka.
Surat Al Waqi’ah 56;63-72
63.
Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
64.
kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya?
65.
kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan Dia hancur dan kering, Maka
jadilah kamu heran dan tercengang.
66.
(sambil berkata): "Sesungguhnya Kami benar-benar menderita kerugian",
67.
bahkan Kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.
68.
Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
69.
kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya?
70.
kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan Dia asin, Maka Mengapakah kamu tidak
bersyukur?
71.
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan
menggosok-gosokkan kayu).
72.
kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya?
Semua
nikmat itu diberikan Allah kepada orang mukmin dan kafir, hal ini menandakan
satu Tuhan Pencipat kita. Bumi , bulan, matahari kita satu, aturan-aturan dalam
alam semesta satu, kalau lapar makan, orang kafir kalau lapar juga makan, ini
merupakan sunnatullah, aturan alam ini hanya satu, inilah kekuatan islam. [Mdr,
24 Muharam 1435.H/28 Novembar 2013.M]
10…………
11………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar